New Year’s Eve 2019 in NYC : Pengalaman Travelling Terburuk Yang Pernah Aku Rasakan

Hola World

Tak berasa tahun 2019 akan berakhir dan akan datang tahun 2020. Di akhir tahun ini saya terpikir untuk menceritakan pengalaman saya di malam pergantian tahun 2018 ke 2019. Dan bisa dikatakan itu adalah pengalaman paling buruk yang pernah saya rasakan selama travelling beberapa tahun belakangan ini. Agak menyesal memang tapi ya sudah lah namanya juga pergantian tahun kan, ini adalah musim dimana semua orang berlibur dan New York City adalah kota dengan tradisi tahun baru paling terkenal di dunia, maka nya bisa dibilang saya agak kurang persiapan dan hal ini menjadi the worst new years eve in New York City, dibaca ya kisah nya.

Suasana Times Square di malam pergantian tahun

Pasti sudah tahu dong bahwa New York City di malam tahun baru adalah sebuah pengalaman yang luar biasa menurut beberapa sumber. Awalnya saya penasaran saja dengan bagaimana suasana malam tahun baru di NYC. Satu kesalahan saya adalah saya yang tidak biasa melakukan perayaan malam tahun baru, jadi saya kurang paham untuk riset berkaitan dengan malam tahun baru. Alhasil saya tetap coba bermalam tahun baru di NYC dengan sedikit sekali riset. Dengan modal nekat, sampai lah saya di New York City, bersama dengan satu orang Indonesia yang saya kenal di Seattle dan temannya dari Cambodia, mereka berdua sudah berada di NYC lebih dulu sedangkan saya datang dari Philadelphia.

Dan malam itu tiba, tanggal 31 Desember 2018. Berangkatlah saya dengan teman saya itu ke pusat keramaian tahun baru di New York yaitu Times Square. Berdiri di Times Square menunggu hitungan jam mencapai angka nol di malam tahun baru adalah sebuah sensasi yang mungkin bagi orang banyak tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Jika kita baca sejarahnya Times Square telah menjadi pusat pesta untuk Malam Tahun Baru sejak 1904. Bermula dari pesta perdana yang juga merayakan pembukaan kantor pusat baru surat kabar The New York Times dengan lebih dari 200.000 orang yang bersuka cita. Sebuah tradisi lahir, dan ketika masa dimana kembang api dilarang sementara di kota, maka munculah tradisi drop ball dimulai untuk perayaan 1908, sejak itu berlanjut setiap tahun, kecuali beberapa tahun selama Perang Dunia II. Drop Ball, bola bercahaya yang terkenal itu, dijatuhkan dari tiang bendera di atas Times Square, dibuat dari Waterford Crystal, berdiameter 12 kaki, berat 11.875 pound, dan dapat membuat tampilan mengejutkan lebih dari 16 juta warna dan miliaran pola.

Times Square New York tetap memukau meskipun hujan tetap datang

Begitu semangat nya saya ingin melihat juga hal itu, ternyata memang semua nya tidak mudah. Bayangkan saja untuk mendapatkan spot terbaik dari bola cahaya, kita harus sudah masuk ke Times Square mulai pukul 1 pm. Ini bulan Desember dimana masa winter, sehingga NYC sangat dingin antara 5 sampai dengan -10 derajat Celcius. Berikut harus tahan berdiri selama kurang lebih 12 jam dari jam 1 siang sampai jam 00.00, untuk melihat atraksi ini. Kami baru keluar dari apartemen sewaan kami pukul 14 siang yang mana sudah 1 jam lewat dari pembukaan Times Square, tiba di lokasi sudah pukul 15 pm, semua jalur ke Time Square ditutup untuk mobil, jadi satu satu nya cara untuk ke sana adalah dengan berjalan kaki. Namun ternyata ada jutaan orang sepertinya saya rasa saat itu sehingga terasa sempit dan apa ya semua orang saling dorong dan seruduk, dimana biasanya orang Amerika merasa bahwa jarak antara satu manusia dengan manusia lain itu harus sepergelangan tangan, di sini semua itu berubah, NYC berubah menjadi tempat sodok sana sodok sini demi bisa mendapat jalan menuju Times Square. Melihat kondisi ini saya benar benar tidak mempersiapkan akan datangnya kerumunan besar ini.

Makin lengkap penderitaan ketika pukul 3 sore turun hujan, dan hujan nya juga sangat deras. kalau dingin ok lah karena kita sudah menggunakan beberapa layer baju. Tapi hujan, membuat badan kita basah dan ampun deh pokoknya udara sekitar 5 derajat terasa seperti -10 derajat. Karena tidak tahan dengan kondisi itu saya memilih untuk mundur, dan akhirnya saya harus berpisah dengan dua temen saya itu, mereka mungkin karena masih berumur 20 tahun mungkin masih sanggup ya, saya beneran gak sanggup harus berdiri 12 jam dingin plus hujan.

Akhirnya saya mencari kehangatan, dan saya menemukan tempat pertama dimana saya bisa menemukan kehangatan. Tempat itu adalah New York Public Library. Kalau sudah baca cerita saya di Boston, saya juga menemukan perpustakaan yang luar biasa keren. Perpustakaan publik New york juga tidak kalah menarik dengan yang di Boston. Tapi kaget nya adalah ternyata para Newyorker (panggilan untuk warga New York City) masih sempat membaca di perpustakaan ini walaupun ini malam tahun baru. Saya keliling perpustakaan ini foto foto sambil mengagumi keindahan perpustakaan ini. Setelah puas keliling, saya mengintip dari jendela wah matahari sudah terbenam karena sudah pukul 5 sore (winter matahari lebih cepat terbenam). Sayangnya perpustakaan tutup pukul 5 sore sehingga saya harus keluar dari tempat itu di pukul 5 sore.

New York Public Library, tempat saya mencari kehangatan
Mending tahun baruan di sini aja ya…

Namun hujan masih awet di luar, saya coba telepon temen saya ternyata mereka sudah di dalam Time Square, ok baiklah saya bilang saya cari spot lain dulu ya. Akhirnya saya terdampar di St. Patrick Cathedral, salah satu gereja katolik yang dekat sekali dengan Rockfeller Centre. Kebetulan di gereja lagi ada misa malam tahun baru, tapi di gereja ini juga ramai sekali, saya lihat banyak juga para turis yang menghabiskan waktu untuk beribadah di gereja katolik terbesar di Amerika ini. Setelah lumayan hangat di gereja, saya pun melihat ke luar dan hujan sudah berhenti akhirnya saya mencoba untuk ke Rockfeller Centre. Rockfeller Centre ini adalah salah satu pusat perkantoran terbesar yang ada di New York, kalau pernah lihat film Home Alone pasti tahu setiap tahun di depan gedung ini ada pohon natal besar yang merupakan salah satu pohon natal terbesar di dunia. Lagi lagi banyak sekali orang yang ingin ke Rockfeller Centre sehingga saya hanya bisa melihat pohon natal dari kejauhan.

Rockfeller Center dan pohon natal yang sangat indah
St. Patrick Cathedral tempat saya berteduh yang kedua ketika hujan masih mengguyur
Umat Katolik sedang misa Malam Tahun Baru di St Patrick Cathedral

Tak terasa sudah pukul 9 malam, dan tiba tiba hujan lagi lalu saya mendapat kabar kalau ada satu teman saya yang tidak tahan akhirnya meninggalkan Times Square. Jadi akhirnya kami ketemu di Rockfeller Centre, kemudian bersama mencari tempat makan, dan pilihan kami jatuh ke kawasan Koreantown, sebuah kawasan yang sering disebut Korea kecil, banyak sekali restoran Korea bertebaran di sini. Apalagi di malam tahun baru tempat ini buka 24 jam. Kami memilih salah satu restoran dan makan malam sambil menghangatkan badan. Setelah mendekati jam 12, dengan menggunakan payung kami pun pergi ke ujung Koreantown, masih bisa sih lihat kembang api Times Square, walupun pemandangan nya adalah orang menggunakan payung karena hujan masih lebat.

Menjelang jam 12 malam makin banyak orang bawa payung bayangkanlah bagaimana situasinya

Walaupun cukup jauh banyak sekali orang yang pada kumpul di Koreantown, ada yang bersama keluarga dimana anak anak mereka topang di bahu mereka. Ada juga para pasangan yang saling kecup dengan menyatakan Selamat Tahun Baru, dan ada juga banyak sekali mobil bertuliskan NYPD di jalan jalan dimana polisi selalu siaga satu dan mendekati hal hal yang dirasa mencurigakan. Selesai sudah Drop Ball, kembang api bertahan selama 45 menit dan selesai kembang api, hujan pun berhenti. Serempak semua orang pada meninggalkan Times Square. Namun masih banyak sekali restoran, dan bar yang buka kebanyakan orang pada ke sana dan menghabiskan waktu sampai jam 2 atau 3 pagi. Namun saya pun berjumpa dengan temen kita yang ada setia menunggu di Time Square, namun dia sangat kuat sekali bravo buat dia. Akan tetapi katanya dia lapar sekali sudah menahan lapar dan haus selama 12 jam, kami ajak dia makan di Koreantown sekali lagi dan mengakhiri pergantian tahun ini.

KoreanTown tempat berteduh ketiga malam ini
Selesai sudah kembang apinya kami akhirnya reunited…

Kesimpulan nya adalah bukan ide bagus buat aku pribadi jika ingin menghabiskan malam tahun baru di New York, karena kota ini begitu terkenal sehingga seluruh orang dari penjuru dunia banyak sekali yang datang ke tempat ini. Jutaan orang ingin menyaksikan Drop Ball, suasana majestik kota berubah menjadi pasar tradisional ala Indonesia, ramai,sesak, dan penuh lautan manusia dengan berbagai aktivitas ada yang mau belanja, ada yang mau foto foto, ada yang mau makan, dan lain nya. Walaupun begitu buruk saya tetap anggap ini adalah pembelajaran yang sangat menarik. Ok mau tahu juga dong bagaimana pengalaman kalian di malam tahun baru tahun 2020 yang tidak akan lama lagi ini, silahkan beri komentar ya dan jangan lupa like artikel ini

Ceria tapi kesal setelah akhirnya hujan benar benar berhenti hampir jam 2 pagi

Happy New Year 2020

Ferdi Cullen

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s