Ayo Ke Museum : Museum Pusaka Nias, Museum di Tepi Samudra

4 comments

Ya’ahowu

Kesan pertama dari museum ini adalah etnikal dan bersih. Museum Pusaka Nias yang terletak di jalan Yos Sudarso ini, didirikan pada tanggal 10 November 1995. Museum ini berada di bawah naungan Yayasan Pusaka Nias yang dipimpin oleh pastoral dari Jerman.

Foto Di Depan Museum
Tulisan MUSEUM menghiasi museum ini

Untuk masuk ke museum ini terbilang sangat murah, anda hanya perlu membayar Rp. 5 ribu saja ketika anda berada masuk mulai dari pintu gerbang museum ini. Museum ini terdiri dari empat eksibisi utama, uniknya adalah masing masing eksibisi dibuat secara etnik dengan membangun rumah adat atau bangunan khas Suku Nias, yaitu bangunan berupa atap kuncup. Yang sangat disayangkan adalah pengunjung tidak bisa mengambil gambar di dalam museum, padahal banyak sekali ilmu yang bisa dishare di dalam museum. Heran saya kenapa bisa begini ya padahal museum di Eropa sudah banyak yang membuka museum mereka dengan kegiatan dokumentasi, ya berharap saja semoga ke depan nya mereka bisa lebih terbuka terkait ini.

Bangunan tempat koleksi disimpan

Pada dasarnya terdapat dua bagian yang terbagi dalam empat eksibisi yaitu koleksi budaya Suku Nias yang terdiri dari peralatan rumah adat, peralatan perang, bahkan peralatan untuk persembahan pernikahan. Pada awalnya masyarakat Nias hampir sama dengan masyrakat Batak lain nya di Sumatera Utara mereka mempercayai Animisme dan Dinamisme sebelum adanya agama masuk di wilayah ini.

Tradisi perang di Nias menurut saya cukup menarik , jadi begini dikisahkan kehidupan Suku Nias di jaman Megalitikum adalah sangat keras, mereka terdiri dari kelompok kelompok kecil yang berpencar dari pantai sampai pengunungan, mereka saling bermusuhan dan hampir setiap minggu ada perperangan waduh ngeri juga ya. Ini merupakan cikal bakal tarian perang yang menjadi tarian tradisional di Nias

Suasana di dalam pintu masuk Museum

Selain itu ada juga tradisi “Mangayau” salah satu tradisi yang cukup brutal menurut saya. Pasti anda sudah mendengar Lompat Batu yang berasal dari Nias, jadi lompat batu ini merupakan tradisi seseorang pria dinyatakan dewasa dengan cara melakukan lompat batu, ternyata setelah saya membaca beberapa eksibisi di museum ini ada satu tradisi lagi yaitu “Mangayau” jadi para pria ini diharuskan untuk memenggal atau memotong kepala sebanyak mungkin agar bisa dikatakan dewasa. Absurd, but thats happening, biasanya para pria ini paling semangat kalau sudah ikut tradisi perang mereka menjadi garda depan dan semakin banyak kepala yang mereka kumpulkan dari berperang akan semakin dinyatakan dewasa.

Selain untuk dinyatakan dewasa biasanya para potongan kepala itu juga menjadi mas kawin dalam pernikahan, jadi seorang pria harus mempersembahkan kepala-kepala kepada mempelai wanita nya. Begitu juga dengan upacara kematian, yang konon harus mempersembahkan kepala juga agar roh yang meninggal bisa ditemani oleh para kepala tersebut.Wuih sangat sulit saya membayangkan gimana hidup di jaman itu.

Koleksi ukiran Batu Menhir Nias

Terus apa artinya Mangayau?, Mangayau adalah satu teknik pemotongan kepala khas Nias. Jadi di dalam museum ada satu alat pemenggal yang memulai pemenggalan kepala mulai dari bagian lengan kanan hingga diagonal ke pundak kiri sehingga bagian tubuh yang terlepas adalah lengan kanan, sebagian dada, leher, dan kepala. Konon katanya hal ini untuk memudahkan membawa kepala untuk dipersembahkan ya mungkin untuk pujaan hati jika yang bersangkutan mau menikah atau untuk meningkatkan citra sosial nya. Merinding kan.

Kemudian bagian besar lainnya dari koleksi Museum adalah peralatan rumah tangga seperti peralatan memasak, peralatan berburu, dan bagian bagian dari rumah adat, semua sangat lengkap diceritakan di museum ini. Namun untuk menikmati semua koleksi di dalam museum kita akan diminta untuk membayar Rp. 5 ribu rupiah kembali namun seperti yang saya ceritakan di awal kita tidak boleh mendokumentasikan apa apa di dalam tanpa ijin resmi dari pengurus museum.

Stonehenge Nias

Batu Menhir yang merupakan Stonehenge dari jaman Megalitikum merupakan koleksi favorit saya ketika berkunjung ke museum ini. Mirip sih dengan batu Stonehenge di London dan Praha hehehe jadi bayangkan saja kebudayaan Nias sudah hampir sama dengan Ancient British dan Bohemian, mereka sudah menggunakan Stonehenge untuk penyembahan Animisme mereka. Ukiran ukiran dari setiap batu juga sangat unik, saya banyak sekali melihat seperti kepala naga, tapi salah satu teman saya yang asli dari Nias memberitahukan bahwa itu bukan Naga melainkan Harimau, jadi karena di Nias tidak ada Harimau mereka mengintrepretasikan Harimau sebagai Naga yang sangat terkenal di kebudayaan Asia, interesting bukan.

Rumah Adat Nias yang terdapat di perkarangan museum

Museum ini selain menyajikan sejarah budaya di eksibisi nya, ada juga atraksi lain yang menjadi hiburan warga lokal. Sebagai contoh, ada kebun binatang kecil terletak tidak jauh dari bangunan museum, binatang yang menjadi koleksi merupakan sumbangan dari para donatur yang merupakan para pengusaha asal Nias. Dan yang menjadi favorit saya lagi adalah laguna nya, yup Laguna semacam tempat bersantai di belakang museum yang langsung menghadap pelabuhan Gunung Sitoli, jadi saya bisa katakan museum ini adalah museum di tepi samudera yaitu Samudra Hindia.

IMG_20180209_104016
Riak Ombak di Laguna Museum
Kita bisa duduk santai di sini dengan pemandangan Laut

Pemandangan di Laguna ini sangat luar biasa, hilang rasa lelah setelah beberapa hari sebelumnya mengemban misi sosial dalam rangka program edukasi kami dan perjalanan 6 jam ke desa desa terpencil. Melihat deburan dan riakan ombak plus keindahan sunset menjadikan trip kami ke Nias adalah salah satu trip terbaik dan hidup lebih semangat kembali, kami siap untuk membuat perubahan lagi.

Demikian kisah kami di Museum Pusaka Nias, jangan lupa untuk berkunjung kemari ya jika ke Gunung Sitoli.

Ferdi Cullen

 

 

Advertisements

4 comments on “Ayo Ke Museum : Museum Pusaka Nias, Museum di Tepi Samudra”

    1. Lazim nya suku suku pedalaman Indonesia lain nya pakaian tradisional kita memang sedikit terbuka mas misalnya Dayak or Papua. Dan itu sepertinya tidak menghalangi mereka berperang karena perangnya pasti di lahan terbuka jadi saling gilas menggilas lah Terima kasih

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s