Social Impact Travel : BaktiKu NegeriKu Nias Utara

5 comments

Yaahowu….

Bafeladorotuho, NiasUtara, Februari 2018

Pulau Nias, merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia yang terletak di Propinsi Sumatera Utara. Perjalanan pertama saya di tahun 2018 ini, merupakan petualangan yang berbeda dengan petualangan biasanya. Hal ini dikarenakan perjalanan saya sambil membawa misi sosial dari perusahaan saya, beberapa aksi sosial sebelumnya sudah pernah saya lakukan di kota Medan, namun bagaimana rasanya memberikan social impact selama kita travelling. Mari kita ikuti kisah perjalanan bertema sosial di Nias Utara.

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah konsep kegiatan atau aktivitas yang dilakukan organisasi sebagai bentuk tanggung jawab nya terhadap masalah sosial dimana perusahaan itu beroperasi. Dengan kata lain, perusahaan tidak hanya dituntut untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin, tapi dibalik keuntungan yang selama ini diperoleh perusahaan,  ada baiknya juga dirasakan langsung (directly) oleh masyarakat.

Konsep Corporate Social Responsibility

Program dari PT. Telkomsel bertajuk “Baktiku Negeriku” ini merupakan sebuah program Corporate Social Responsibilty yang didedikasikan untuk membangun negeri kita tercinta Indonesia. Konsep program nya adalah kami para karyawan menjadi sukarelawan terjun ke daerah daerah terpencil di Indonesia untuk mengajar dan mensosialisasikan tentang Internet. Sebagai provider yang saat ini mempunyai pelangan seluler terbesar, merupakan tanggung jawab kami untuk bisa memberikan edukasi maksimal sehingga Digital Literacy bisa merata di seluruh Indonesia.

Desa Bafeladorotuho

Awal bulan Februari, sebagai bulan penuh cinta menjadikan semangat saya begitu menggebu. Setelah mendapatkan pembekalan selama 2 hari di Medan, kami pun berangkat dan tiba di Gunung Sitoli. Sebelumnya saya sudah pernah ke Gunung Sitoli, karena saya pernah bertugas di kota Sibolga yang merupakan kota pelabuhan terdekat dari Pulau Nias. Singkat saya melihat tidak begitu banyak perubahan yang terjadi di Gunung Sitoli, saya berharap semoga pembagunan khususnya daerah di pulau terluar Indonesia ini terus ditingkatkan oleh pemerintah Indonesia. Namun jangan salah walaupun perkembangan kota nya tidak sepesat Medan, tapi di Gunung Sitoli sudah ada sinyal 4G dan anda bisa mengakses internet cepat provider Telkomsel dengan sangat mudah di sana.

Bandar Udara Binaka Gunung Sitoli

Setelah tiba di bandara kami pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil ke salah satu desa tempat kami akan mengajar. Nama desanya adalah Desa Bafeladorotuho, desa yang dibangun pada tahun 2006 ini dulunya adalah laut, namun akibat gempa dan tsunami yang menimpa kepulauan Nias tahun 2005, maka air laut pun surut dan muncul lahan baru yang bisa dikembangkan oleh warga. Kemudian para warga dengan bantuan dari berbagai dana kemanusiaan dari berbagai pihak pasca gempa membangun rumah rumah sehingga menjadi desa seperti sekarang ini.

Tureloto Beach

Salah satu tujuan dari program CSR kami adalah mencari spot pariwisata baru yang bisa dikembangkan menjadi tempat Pariwisata baru di Indonesia. Untuk misi kali ini, kami menemukan sebuah pantai yang sangat unik, yaitu Pantai Tureloto. Jadi apa yang menarik dari pantai ini, Karang Otak, yup di pantai ini terdapat banyak sekali karang otak. Karang yang berbentuk lingkaran lingkaran abstrak ini mirip dengan gambar otak manusia oleh sebab itu disebut dengan Karang Otak. Sebelumnya saya pernah menulis tentang salah satu pantai di Taipei yang mirip sekali dengan yang ada di Nias Utara ini, yaitu Yehliu Geopark yang sudah menjadi sebuah taman geologi. Seandainya bisa dikembangkan lagi saya yakin keindahan karang ini bisa menjadi sama indahnya seperti Yehliu.

Logo Pantai Tureloto

Pulau Nias memang terkenal dengan pantainya, yang terkenal adalah Pantai Sorake. Pantai Sorake, adalah pantai yang terkenal dengan ombaknya dan sangat disukai oleh para surfer dunia. Nah berbeda jauh dengan Sorake, pantai Tureloto ini hampir tidak ada ombak sama sekali, kemudian air nya berwarna hijau dan jernih sekali. Ajaibnya, air di pantai ini sama dengan air di Laut Mati, yang mana bisa membuat seseorang mengapung luar biasa bukan. Ini merupakan potensi pariwisata yang harus kita perkenalkan ke dunia.

Salah satu sudut Pantai Tureloto
Karang Otak yang mirip dengan di Yehliu Geopark Taipei

Program Baktiku Negeriku

Hari pertama program CSR ini kami langsung disambut oleh warga setempat dengan tari-tarian. Selanjutnya kami melakukan presentasi kepada masyarakat desa di balai kota. Saya tidak menyangka ternyata warga sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini.

Berfoto bersama anak anak Nias Utara

Sore harinya kami berkesempatan pergi ke Tureloto Beach, di sini kami melakukan penanaman tanaman bakau. Dengan tujuan agar tumbuhan Bakau dapat tumbuh dengan baik dan menjadikan ekosistem pantai tetap terjaga karena Bakau mampu melindungi kestabilan garis pantai. Kami menginap di rumah warga, dan ternyata warga di sini sangat ramah, mereka menyambut kami dengan baik bahkan sampai memasak makanan buat kami.

Semoga Tanaman Bakau yang kami tanam bisa tumbuh dan makin mempercantik garis pantai ini

Hari kedua kami fokuskan untuk mengajar, sudah ada pembagian team sebelumnya, kami berpencar ada yang mengajar sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menegah atas. Saya berkesempatan mengajar anak sekolah dasar, ternyata anak sekolah dasar di desa ini pintar-pintar, mereka punya cita-cita yang tinggi, dan bahkan ada yang mau menjadi seorang youtuber loh. Saya belajar banyak dari semangat mereka, yaitu selalu mensyukuri segala anugrah dari Yang Maha Kuasa sekaligus tetap belajar dan bekerja keras mencapai cita cita. Memang sederhana tapi bagi anak anak ini itu merupakan sebuah penetapan yang luar biasa.

Kami Tim Pengajar Sekolah Dasar

Selesai mengajar, program puncak nya adalah perusahaan kami memberikan bantuan berupa Digital Center, sebuah bangunan kecil yang terdapat semua peralatan berhubungan dengan industri kreatif seperti PC, laptop, bahkan kamera digital. Tempat ini bisa diakses oleh warga untuk belajar tentang dunia digital. Kami juga membekali warga dengan workshop fotografi dan ada beberapa warga lokal yang terpilih menjadi Agent of Change, yang merupakan orang-orang yang kita pilih agar melakukan sosialisasi internet kepada masyarakat.

Program Baktiku Negeriku
Sun Rise at Tureloto Beach

Demikian perjalanan yang memberikan social contribution kepada masyrakat, saya berharap saya makin banyak melakukan perjalanan Social Impact Travel seperti ini. Semoga pantai Tureloto semakin banyak pengunjungnya dan jangan lupa jika anda ingin berkunjung ke Nias pastikan ke Nias Utara. Dan semoga juga desa Bafeladorotuho semakin makmur.

Ferdi Cullen

 

Advertisements

5 comments on “Social Impact Travel : BaktiKu NegeriKu Nias Utara”

    1. Wah seperti apa itu pengalaman kuliahnya , boleh share nih di sini?
      iya kak, pulau nias sangat luas, perjalanan dari Gunung Sitoli ke Nias Utara tempat Tureloto memerlukan waktu 2 jam, sedangkan ke Sorake dan Teluk Dalam tempat biasa kita melihat atraksi lompat batu juga membutuhkan waktu 3 jam dari Gunung Sitoli.

      Like

      1. Wah, jauh ya. Dulu aku hampir ke Nias mas, tapi karena tidak begitu yakin jadi aku putar arah ke Sabang.

        Waktu itu aku kuliah di Jogja, dan sebagai syarat kelulusan ada namanya program KKN alias Kuliah Kerja Nyata. Ada dua lokasi: Jawa dan Luar Jawa (Ketapang, Kalbar). Awalnya aku daftarnya yang luar jawa, tapi karena saat seleksi wawancara aku gak bisa datang, jadi aku ditempatkan di Jawa, tepatnya di Samigaluh, Kulonprogo.

        Sebelum terjun lapangan, selama 6 bulan ada coaching dulu. Bikin proyek bersama, tapi lebih ke proyek non-fisik seperti pendidikan dan pemberdayaan potensi alam gitu.

        Saat penerjunan di sana, cukup terkendala juga karena walau masih di Jawa, dusunku itu listriknya mati nyala. Kalau charge hape lebih dari 3, njegleg langsung. Lalu, induk semangnya pun tidak bisa bicara bahasa Indonesia, mau tidak mau kami sekelompok harus pelan-pelan belajar bahasa Jawa. Dan, yang paling tak terlupakan adalah kami sekelompok kena kutu sapi karena rumah yang sebelahan dengan kandang ternak.

        Sebulan di sana menyenangkan sekali. Walau program yang kami kerjakan cuma sederhana, tapi warga menerimanya dengan baik. Malah kalau dipikir-pikir, bukan kami yang mengajari mereka, tapi merekalah yang mengajari kami dengan kearifan lokal kehidupan desa hehehe.

        Like

      2. Menarik sekali ya, generasi muda saat ini menurut saya perlu untuk lebih banyak terjun ke lapangan, tindakan mas arya sangat menginspirasi. Enak juga ya sudah dicoaching selama 6 bulan kalau saya kemarin hanya 2 hari karena memang kegiatan nya sebentar, terus menantang juga ya daerahnya kebetulan saya kemarin masyarakat Nias di desa Bafeladorotuho rata rata sih sudah bisa bahasa Indonesia. Iya kita saling mengajarkan, dari mereka juga banyak yang bisa kita jadikan pelajaran ini memang sebuah pengalaman yang sangat berharga.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s