Ayo Ke Museum : Museum Perumusan Naskah Proklamasi

17 Agustus 2017, Jakarta

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, kita bangsa Indonesia wajib bersyukur dengan segala rahmat kemerdekaan yang diberikan ini. Banyak sekali cara yang digunakan oleh bangsa ini untuk merayakan hari kemerdekaan. Salah satu yang paling sederhana adalah lomba ketangkasan yang diadakan berbagai instansi mulai dari lingkungn sekitar kita maupun instansi perkantoran. Lomba itu meliputi lomba makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, dan event yang berhubungan dengan kesehatan seperti lomba lari bersama. Apapun itu kegiatan yang dilakukan adalah wujud syukur bangsa ini terhadap hari kemerdekaan itu sendiri. Sebagai perwujudan rasa syukur terhadap kemerdekaan saya bekunjung ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Untuk hari kemerdekaan tahun ini karena saya kebetulan sedang di Jakarta alangkah baiknya saya sebagai orang yang juga bersyukur akan kemerdekaan merasa ingin tahu apa latar belakang dari kemerdekaan itu. Rasa ingin tahu saya ini mengantar saya ke museum yang menjadi saksi kisah bagaimana kemerdekaan akhirnya menjadi suatu esensi bagi bangsa kita ini. Museum yang terletak di jalan Imam Bonjol No 1 Jakarta Pusat ini, awalnya tidak begitu terlihat karena kawasan Menteng ini terdiri dari begitu banyak rumah yang sudah menjadi Konsulat maupun kedubes dari negara asing. Namun akhirnya saya menemukan sebuah rumah yang lagi ada perayaan 17 Agustusan, ya…. rupanya di museum sedang berlangsung perayaan 17 Agustus sesuai dengan tradisi museum 3 tahun belakangan ini.

Suasana Perayaan Kemerdekaan di Museum

Suasana riuh acara yang dilakukan oleh salah satu ormas Jakarta ini berlangsung cukup meriah saya lihat dan kebetulan saya datang bertepatan sudah selesainya upacara bendera, sayang sekali ya kalau tidak saya ingin ikut gabung nih untuk upacaranya hehehe. Awalnya saya sedikit bingung karena pintu masuk seperti dijaga oleh tentara berbadan besar gitu, akhirnya saya menanyakan kepada salah satu petugas di counter tiket apakah museum saat ini bisa dikunjungi. Dengan sigap bapak tersebut menyatakn bisa dan saya dipersilahkan masuk. Oh ya pada saat itu karena 17 Agustus dan memang setiap bulan Agustus museum memberikan akses masuk Gratis alias tidak dipungut biaya. Namun jika anda datang pada saat tidak bulan Agustus harga tiket museum sangat terjangkau yaitu Rp. 2 ribu Rupiah saja untuk warga lokal dan Rp. 10 ribu rupiah untuk warga asing. Museum buka dari Selasa sampai dengan Minggu pukul 08.00 sd 16.00 dan libur pada hari Senin.

Museum ini terdiri dari Diorama dan infografik yang menggunakan bahasa Indonesia dan ada versi Inggris. Museum ini juga sangat bersih dan wangi serta suhunya nyaman banget saya sepertinya merasa sangat segar di dalam museum. Rumah yang menjadi museum ini adalah rumah dari Laksamana Maeda seorang perwira dari Jepang yang sangat mendukung Indonesia Merdeka. Ruang pertama museum adalah sebuah ruang tamu yang digunakan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Subarjo, dan sang laksamana untuk mendiskusikan perihal kemerdekaan Indonesia, hal ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 22.00. Runutnya adalah ketiga serangkai ini merasa ini adalah momen yang tepat dimana pada saat itu Jepang yang membawahi Indonesia sedang mengalami kekalahan perang akibat serangan bom di Hiroshima dan Nagasaki. Nah yang saya pelajari di museum ini adalah ternyata Maeda mengajak team Bung Karno menemui atasan angkatan darat Jepang yang ketika itu tidak menyetujui kegiatan yang ingin dilakukan dikarenakan Indonesia masih status quo antara Jepang dan Sekutu. Namun dengan tekad kuat akhirnya mereka kembali ke rumah Maeda pukul 02.30 dan siap tidak siap mereka tetap akan melakukan proklamasi kemerdekaan. Maeda kemudian tidak mau l;agi campur tangan dan menyerahkan semua nya kepada team Bung Karno. Dari sini saya belajar tentang kesetiaan Maeda kepada Jepang memang luar biasa walaupun di hatinya paling dalam dia mau menolong team Bung Karno, namun dengan hanya menyediakan rumah dan bukan malah mengusirnya karena saya pikir jika Maeda patuh dengan Jepang dia pasti sudah menyuruh seluruh team keluar, saya belajar tentang empati di diri Maeda ini.

Ruang Tamu Tempat diskusi Maeda dan Bung Karno team

Selanjutnya kita masuk di ruang berikutnya yaitu ruang makan Maeda, yang digunakan sebagai ruang diskusi tiga serangkai dalam merumuskan nasakah proklamasi, kemampuan verbal ketiganya pasti sangat bagus saya pikir karena kejadianya berlangsung pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 03.00. Dari hasil diskusi ini didapat lah naskah proklamasi.

Suasana merumuskan naskah proklamasi yang digambarkan oleh diorama berikut

Setelah konsep naskah proklamasi selesai di draft serta merta Bung Karno memanggil Sayuti Melik dan BM Diah, kedua tokoh ini berjasa dalam pengetikan naskah proklamasi. Dan kemudian setelah naskah proklamasi selesai diketik Bung Karno dan Bung Hatta menandatangani naskah di piano hitam yang terletak di bawah tangga. Selesai diketik dan ditandatangani Sukarno siap untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang dilakukan nya di kediaman beliau di Jl. Pengansangan Timur No 56 yang saat ini sudah menjadi Monumen Proklamasi.

Piano ini tempat ditandatangani nya Naskah Proklamasi

Suasana Pengetikan Naskah oleh Sayuti Melik dan BM Diah

Anda that’s it hanya segitu saja sih museum ini, suasana di lantai 1 sudah bisa merumuskan flashback apa yang terjadi selama proses kemerdekaan  itu. Jika anda ingin berkunjung ke lantai 2 di sini banyak infografis yang menceritakan mengenai kisah Indonesia Merdeka dan juga tokoh tokoh nasional. Kita juga bisa melihat arsitektur Eropa yang menghiasi rumah ini.

Koleksi Buku di lantai 2

Banyak infografis dan benda bersejarah ditampilkan di lantai 2

Arsitektur Bergaya Eropa

Ada hal menarik selama saya bekunjung ke museum ini yaitu museum ini sudah terhubung dengan aplikasi digital Siji di ponsel Anda, silahkan download Siji  kemudian scan barcode di setiap gambar interaktif di dalam meseum dan langsung anda dapat informasi berupa teks, suara ,dan video. Tidak hanya itu di lantai 1 ada panel interaktif yang bisa diakses menggunakan tablet, di sini kita bisa melihat seluruh ruangan secara digital map dan ada juga rekaman suara para tokoh nasional loh. Dan tentunya adalah lukisan dan poster atraktif di museum ini saya apresiasi sekali semua nya bagus banget. Nampaknya ini bisa dijadikan sebuah benchmark museum digital di Indonesia. Good Job dan two thumbs up buat Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Instruksi Museum Digital

Panel Interaktif

Gambar yang disajikan sangat menarik menurut saya

 

Perjalanan saya yang singkat ini pun saya akhiri dengan sangat puas melihat sebuah proses yang sangat berat dilakukan oleh para tokoh nasional, hal ini semakin membuat saya semakin bersyukur akan nikmat kemerdekaan ini dan akan terus bekerja dan berjuang untuk mengharumkan nama bangsa bukan hanya nasional tapi internasional.

MERDEKA

Ferdi Cullen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: