Gedung Candra Naya : Cagar budaya di tengah Modernisasi Jakarta

Candra Naya Building, Juni 2016

Imajinasi saya langsung menancap pada kisah animasi beberapa tahun lalu yaitu film Up dimana kisahnya menceritakan tentang kisah seorang pria tua yang rumahnya terhimpit arus modernisasi pembangunan perkotaan yang sedang maraknya seperti pembangunan gedung perkantoran, hotel, dan mall. Namun rumah pria tersebut tetap setia menjadi saksi perubahan kebudayaan itu. Nah saya teringat kisah ini ketika saya berkunjung ke Rumah Candra Naya berikut lengkapnya.

Rumah Candra Naya

Rumah Candra Naya merupakan rumah khas Tionghoa yang sama sekali tidak kita disangka keberadaanya. Mengapa saya katakan demikian? karena letak rumah ini terhimpit diantara gedung hotel dan apartemen yang mengelilingi nya. Terletak di Jalan Gajah Mada No 118 Jakarta Barat (Kompleks Green Central City) persis di samping hotel Novotel dan sebuah minimarket. Gedung ini memang sangat tersembunyi jika dilihat dari luar maka tidak ada satu orang pun yang menyadari akan adanya gedung ini. Menurut saya gedung ini mereleksikan betapa pentingnya melestarikan bangunan bersejarah apalagi dengan arsitektur unik seperti gedung ini.

Berdasarkan sejarah yang saya dapat dari berbagai sumber di internet, rumah ini adalah rumah seorang Mayor berkebangsaan Tionghoa yang bernama Khouw Kiam An yang merupakan mayor bagi komunitas Tionghoa di Batavia kala itu. Pada jaman tersebut tidak semua orang Tionghoa memang yang diperbolehkan membangun sebuah bangunan dengan tipe arsitekutr burung walet ini. Arsitektur bangunan ini mencerminkan status sosial dari pemiliknya.Bangunan ini sendiri sudah berusia 200 tahun walaupun tidak ada catatan resmi kapan dibangunanya, menurut kisah yang saya baca kini hanya bangunan utama saja yang masih bisa kita lihat sedangkan sisa bangunan yang lain sudah tidak ada lagi alias diratakan oleh modernisasi. Jadi sebelumnya terdapat bangunan lain dan juga taman luas, bagi anda yang sudah pernah ke Rumah Tjong A Fie di Medan, rumah khas seorang tokoh Tionghoa adalah harus memenuhi beberapa unsur Fengshui seperti ada unsur alam sehingga taman merupakan salah satu tempat wajib bagi rumah khas Tionghoa. Akan tetapi taman tersebut saat ini sudah menjadi bagian depan Hotel Novotel plus Minimarketnya.

IMG_1656IMG_1646IMG_1642IMG_1633IMG_1623

Sebagaimana rumah bergaya Tionghoa yang pernah saya lihat, rumah ini relatif masih sangat sederhana jika dibandingkan dengan Rumah Tjong A Fie yang ada di Medan masih jauh saya lihat karena dari segi arsitektur masih lebih menarik rumah Tjong A Fie. Jika rumah Tjong A Fie banyak perabotan maka di dalam rumah kita hanya bisa melihat ruangan demi ruangan karena semua perabotan sudah tidak ada lagi di rumah ini. Hal in terjadi karena rumah ini memang bukan Museum hanya sebagai cagar budaya atau icon monumen saja. Jika kita lihat di dalam rumah maka kita bisa melihat marmer dan pahatan kayu yang sangat kokoh ciri khas rumah Tionghoa masa lampau.

Untuk mempercantik rumah ini ada sebuah franchise kopi di samping rumah ini yaitu Kopi Oey yang menurut saya makin memperindah rumah ini. Jika anda ingin menikmati meminum kopi di suasana oriental sepertinya cocok di sini. Untuk anda pencinta fotografi, saya rasa rumah ini cocok untuk dijadikan tempat untuk mengasah kemampuan fotografi anda. Bagian arsitektunya yang sangat kental dengan lekukan sangat indah diabadikan dalam bentuk kary seni fotografi.Dan satu lagi tentunya bagi para instgramable mungkin tempat ini cocok juga menjadi objek untuk menambah koleksi foto anda di Instagram.

IMG_1615

Bentuk kosong yang tepat berada di tengah gedung ini menurut saya kembali mengingatkan tentang kisah Up yang saya ceritakan di awal tadi jadi siapa sangka saja mungkin ada balon terbang yang bisa menerbangkan tempat (sekedar imajinasi liar saya).

Semoga keberadaan cagar budaya Candra Naya ini bisa memberikan ruang bagi bangunan-bangunan kuno lainnya yang ada di kota Jakarta agar tetap dapat dilestarikan dan lebih baik jika dijadikan museum saja sehingga para generasi muda dapat belajar dari bangunan tersebut dan semoga semua pihak tetap mendukung agar keunikan ini bisa bertahan sampai masa akan datang.

Ferdi Cullen

3 comments

  1. Wah, Candra Naya. Bangunan ini memang khas Tionghoa sekali ya. Sepertinya baru di sini saya lihat foto bagian dalam gedungnya. Terima kasih, hehe. Meski lokasinya kini dikangkangi gedung pencakar tapi saya pikir kita masih harus bersyukur karena gedung ini masih bertahan. Semoga saja bisa tetap lestari.
    Jadi ingin ke sana. Saya belum pernah mengunjungi gedung ini biar kata sudah mau lima tahun tinggal di Jakarta, haha.

    Like

    1. Dear Mas Gara, iya mas betapa menjadi pelajaran buat kita bersama sebuah gedung bersejarah yang dapat dikatakan nyaris punah ini harus terus dilestarikan, segera mas jika mau datang ke mari, untuk akses ke mari tinggal naik bus way Blok M-Kota aja kok mas sangat mudah ditemukan atau jika ingin mengunakan transportasi online bisa ke Novotel Gajah Mada.

      Like

      1. Siap Mas, terima kasih informasinya, ya.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: