Ayo Ke Museum : Menara Syahbandar dan Museum Bahari

Menara Syahbandar, Museum Kebaharian Jakarta,  Juni 2017

Sunda Kelapa sebuah pelabuhan yang dibangun pada era Pajajaran di abad ke-12 namun pelabuhan ini dikuasai oleh Belanda semenjak kolonialisasi nya di negeri ini. Sebuah saksi sejarah kalau dapat saya katakan karena Sunda Kelapa ini menjadi saksi awal dari berdirinya Batavia. Ada yang menarik di dekat Sunda Kelapa ini selain memang kapal kayu yang menjadi daya tarik fotografi para ahli, yaitu ada sebuah museum bernama Museum Kebaharian Jakarta dan tentunya sebuah menara yang menjadi menara mercusuar bernama Menara Syahbandar.

Perjalanan menuju ke Sunda Kelapa tidak begitu jauh dengan mengunakan transportasi online di tengah panas nya bulan Ramadhan kala itu saya tempuh demi penasaran melihat kawasan sejarah yang mungkin tidak sekeren Kota tua Jakarta namun masih menarik untuk ditelusuri. Ternyata perjalanan dengan transportasi online tadi hanya memakan waktu 10 menit saja untuk sampai ke kawasan ini. Letak kedua tempat ini sangat berdekatan yaitu Jalan Pasar Ikan Penjaringangan Jakarta Utara.

Suasana Pelabuhan Tempo Dulu (Gambar dari google)

Pada saat tiba di wilayah Museum Kebaharian suasana nya sepi sekali tidak ada satu pun pengunjung dan in membuat saya sangat miris. Dengan membeli tiket hanya 5000 rupiah, sebuah harga yang menurut saya sangat murah.

Siang hari yang terik kala itu, membuat saya segera ingin masuk ke museum kebaharian. Ingat kisah saya di sini tentang Museum dengan nama yang sama di Malaka pada bulan Maret lalu. Akan tetapi berbeda dengan museum yang versi Malaka, museum yang versi Jakarta ini agak banyak ruangan yang menurut saya kurang terawat dan perlu banyak perbaikan disana maupun disini. Bahkan ada penjelasan dari salah satu penjaga museum bahwa saat ini memang sedang dilakukan renovasi agar banjir tidak mudah masuk ke dalam Museum. Good Luck for that semoga segera lancar dan museum ini semakin keren.

Suasana di luar Museum sangat khas Eropa saya rasa

Bangunan Kolonial yang masih sangat bagus

Singkat cerita, museum ini awalnya dibangun untuk menampung rempah-rempah nya VOC. Bangunan yang menjadi gudang ini dibangun pada tahun 1652 wah kebayang dong sudah berapa usianya. arsitekturnya menurut saya sangat keren dengan gaya khas Eropa plus Tionghoa yup ada khas Tionghoa nya juga karena bangunan ini memang dibangun oleh etnis tersebut yang ketika itu dipercaya oleh Belanda sebagai pengawas perdagangan Rempah Rempah. Suasana lembab plus panas membuat saya agak sedikit serem di museum ini ditambah memang sedikit pengujung yang ada di sini, suasana  tersebut hanya muncul sementara sedangkan rasa penasaran tentang sejarah kebaharian Indonesia membuarkan perasaan tersebut.

Suasana Museum yang agak lembap

Museum ini terdiri dari empat bangunan namun saya hanya mengeksplore 2 bangunan saja dari total 4 bangunan, bangunan di sisi barat yang dekat dengan muara Sungai Ciliwung disebut dengan Gudang Barat yang saat ini digunakan sebagai museum. Dan ada juga bangunan yang sama di sebelah timur yang saat ini digunakan oleh sebuah restoran serta beberapa bangunan di sebelah timur ini malah terbengkalai begitu saja sayang sekali ya. Total kalau direntangkan dari Timur ke Barat ada kurang lebih 6 bangunan wow besar juga ya. Masing-masing bangunan punya panjang dan lebar yang sama tepatnya saya kurang tahu namun sangat luas lah, namun yang perlu saya tambahkan adalah pihak museum sepertinya perlu menambah pendingin agar sirkulasi udara di bangunan terasa lebih nyaman buat para pengunjung.

Replika Kapal yang dipamerkan di museum ini

Replika Kapal Nusantara semakin menambah wawasan kita tentang Indonesia

Koleksi museum ini sangat beragam, mulai dari kisah sejarah Kebaharian Indonesia, berbagai replika kapal kuno khas Indonesia, replika khas kapal tradisional Indonesia, sampai kisah kemiliteran Angkatan Laut Indonesia. Untuk masalah kelautan komplit lah pokoknya museum ini. Nah mungkin yang menjadi favorit bagi banyak orang pengunjung museum ini adalah Ruang lantai 2 yaitu ruang diorama. Ruang diorama yang sudah dibangun sejak tahun 2013 ini, merupakan salah satu upaya dari Museum ini untuk meningkatkan kunjungan museum, saya rasa cukup menarik dengan mengunakan tema tokoh kelautan internasional seperti para pelaut Eropa seperti Vasco Da Gama, Columbus, sampai kisah dongeng laut internasional namun yang paling saya sukai adalah diorama The Flying Dutchman yang merupakan kisah kapal hantu yang sering saya lihat ceritanya di film Pirates of The Carribean.

Selanjutnya saya mengitari jalan lintas antara satu bangunan dengan bangunan lain, jendela di musuem ini sangat khas dan mengambarkan sebuah arsitektur jendela Eropa yang sangat menarik sekali. Bentuknya seperti jendela galangan kapal menurut saya besar dan tinggi yang fungsinya untuk sirkulasi udara agar Rempah-rempah bisa tahan lama. Di sini juga sangat bersih dan menurut saya cocok bagi anda yang ingin foto pre wedding bersama dengan pasangan anda.

Selepas dari museum ini saya mengunjungi Menara Syahbandar, menara ini merupakan menara pengawas kapal-kapal yang dulu halu lalang di wilayah pelabuhan Sunda Kelapa ini. Menara ini sebenarnya tidak terlalu tinggi hanya 12 M tingginya, namun kala itu cukup untuk mengawas semua kapal-kapal yang masuk di wilayah muara sungai Ciliwung ini. Saya sangat suka dengan khas jendela dari Menara ini yang sangat indah dengan warna kehijauan nya. Kemudian kita boleh masuk ke menara ada 4 lantai di masing-masing lantai kita bisa melihat sedikit kisah tentang menara ini dalam bentuk infografis. Namun yang agak bikin serem adalah setiap kita naik tangga suara tangga akan berbunyi saya pikir udah rusak nih tangganya tapi memang itu ciri khas dari tangga di menara pengawas atau mercusuar jadi bisa menginformasikan ada orang masuk atau tidak. Dari puncak menara kita masuk ke sebuah ruangan yang berwarna merah yang disebut dengan Culemborg (dari bahasa Belanda yang artinya ruang pengawas), cat merah di ruangan ini saya rasa masih baru, mungkin efek dari renovasi kemudian dari sini kita bisa melihat muara sungai Ciliwung yang sayangnya sudah tercemar oleh sampah ibukota.

 

 

 

Ada legenda mengatakan bahwa di bawah menara ini ada sebuah jalan terowongan rahasi yang sangat panjang dan bisa menembus ke Balai kota yang saat ini menjadi Museum Fatahillah. Dan tidak hanya sampai di Balai Kota tapi juga menembus sampai Benteng Frederik Hendrik di dekat Mesjid Istiqlal. Saya juga tidak tahu kenapa akhirnya ditutup ya padahal kalau tidak bisa jadi tempat wisata yang menarik itu terowongan bawah tanah tersebut bukti peradaban negeri kita yang sangat luar biasa.

Demikian perjalanan saya ke satu lagi musuem yang sangat mempesona saya yaitu Museum Kebaharian dan Menara Syahbandar di Penjaringan Jakarta Utara dengan alamat Jalan Pasar Ikan no 1 Penjaringan Jakarta Utara. Jika anda hendak kemari jam buka museum adalah 09.00-15.00 dan harga tiket masuk hanya 5000 rupiah sudah termasuk dengan masuk ke Menara Syahbandar. Hari Senin dan libur nasonal museum tutup. Ayo mari kita ke Museum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: