Malacca : History and Art Two Perfect Combination

Malacca, Maret 2017

Perjalanan saya ke Malaysia tujuan utamanya adalah ingin mengunjungi Kota Malaka yang diklaim sebagai kota paling bersejarah di Malaysia. Kota ini merupakan World Heritage Site UNESCO. Oleh sebab itu, tanpa berpikir panjang maka saya memilih menginap dua malam di kota yang membuat saya sangat terkesan ini. Saya tidak menyangka bahwa setiap langkah yang saya ambil di kota ini serasa mempunyai arti yang bersejarah yuk mari kita lihat kisahnya.

Melaka World Heritage City UNESCO

Nah bagaimana caranya agar kita bisa tiba di Malaka? awalnya karena saya solo travelling dan gak ada persiapan apa-apa saya baru browse tentang how to get to malaka pas sampai di KL akhirnya setelah tanya-tanya sama rekan yang sudah pernah ke Malaka dan juga browsing saya temukan cara yang paling mudah dan murah yaitu naik Bas. Bas merupakan sebutan untuk bis di Malaysia, saya memulai perjalanan saya dari Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Walaupun TBS merupakan terminal bus namun sangat nyaman sekali, dan ada fasilitas Self Service beli tiket sendiri akhirnya saya memutuskan beli tiket via mesin saja lah dan ternyata caranya juga sangat mudah. Pertama anda input terminal keberangkatan yang mana di sini saya input TBS yang tertera di mesin adalah Kualalumpur TBS, berikutnya saya input terminal tujuan saya yaitu Melaka Sentral setelah itu baru input tanggal keberangkatan dan muncul lah semua kemungkinan jam keberangkatan beserta harga, saya gak mikir yang harus fasilitas bagus yang penting ada aja yang paling cepat pergi biar tidak menunggu lama, akhirnya saya pilih KKKL salah satu konsorsium bas di Malaysia yang rupanya cukup recomended menurut beberapa blogger Langkah terakhir setelah pilih jam dan nama bas silahkan masukan uang kita cuman 10 RM loh tiketnya gak mahal dan tiket pun di tangan. Setelah tiket di tangan saya pun bergegas ke gate keberangkatan dengan validasi hanya paspor saya pun masuk ke gate keberangkatan dan jangan lupa beli makanan ya roti ataupun air mineral agar gak kelaparan di dalam bus.

Mesin Self Service ticket di TBS

Suasana Kualalumpur TBS yang nyaman sekali

Setelah melalui perjalanan selama dua jam setengah akhirnya saya tiba di Melaka Sentral, kondisi terminal di Melaka ini agak berbanding terbalik dengan TBS karena terminal nya sangat sederhana dan mirip dengan terminal Amplas di Medan hanya saja di sini jauh lebih bersih. Nah bagaimana caranya agar saya tiba di pusat kota? akhirnya setelah browsing sana sini saya dapatkan informasi bahwa menggunakan bus Panorama no 17, caranya adalah kita tinggal mengikuti petunjuk terminal domestik (domestik di sini artinya dalam kota) dan silahkan liat di masing-masing peron kita pilih bus Panorama no 17 dan silahkan naik bus tersebut harga tiket satuanya sangat murah hanya 1.5 RM. Sang supir menunggu dulu sampai penumpang penuh dan baru mereka berangkat. Selang 15 menit kemudian saya pun tiba di Dutch Square dan berhenti di sana. Saya berjalan kurang lebih 15 menit menuju hotel saya yaitu Hotel Hong.

The Dutch Square

Malaka merupakan sebuah bandar bersejarah mulai dari Kesultanan Malaka sampai kolonialisme yang terjadi di kota ini. Namun yang menarik adalah kota kecil ini menjadi incaran banyak kolonialisme mulai dari Portugis, Belanda, dan Inggris bahkan sempat Jepang juga mengusai kota ini. Hari kedua saya di kota ini saya manfaatkan untuk sedikit menelusuri bangunan bersejarah di kota ini yang warnanya merah mentereng sekali yaitu The Dutch Square. Tahukah anda di Dutch Square ini merupakan bangunan Belanda tertua di luar dari Negeri Belanda itu sendiri, saya pikir selama ini Kota Tua Jakarta merupakan bangunan tertua Belanda rupanya saya salah Stadthuys di kota ini merupakan salah satu bangunan Belanda tertua diluar dari negeri Belanda, fakta yang mengejutkan karena negeri saya yang paling lama disinggahi oleh Belanda eh rupanya bangunan tertua mereka ada di seberangnya hehehe.

The Dutch Square Malaka

Ada sebuah clock tower yang bentuknya sangat unik tapi kalau dilihat agak berarsitektur Chinese dan ternyata benar namanya adalah Tan Beng Swee Clock Tower yang dibangun pada tahun 1886 untuk penghargaan kepada Tan Beng Swee yang merupakan milionaire lokal dari Malaka, warna disesuaikan dengan warna merah dari Dutch Square sehingga menambah keindahan dari The Dutch Square.

Tan Beng Swee Clock Tower

The Dutch Square yang berwarna merah mentereng ini memang sangat iconic sekali menurut saya, bangunannya begitu kuno namun mengindikasikan perawatan yang sangat super sekali dari pemerintah negeri ini. Seperti biasa karena tempat ini sangat tourisity maka keramaian para turis sudah menghiasi tempat ini di pagi hari. Ditambah dengan banyak sekali trickshaw alias becak kalau namanya di tempat saya, namun uniknya becak di sini dihias sedemikian rupa dengan berbagai animasi sampai ada yang punya speaker memutar lagu terkini dan ada juga lagu dangdut Indonesia lo awesome bukan. Ada sebuah gereja bernama Christ Church Melaka yang dibangun pada tahun 1741 selesai 1753 dan merupakan Gereja Protestan tertua di Malaysia dan kabarnya di luar Eropa.

The Christ Church Malaka and crowd of trickshaw in Dutch Square

Stadthuys. Bangunan ini merupakan bangunan sentral di kawasan kota tua Malaka, dibangun pada tahun 1650 oleh Belanda sebagai Balai Kota dan tempat tinggal para Gubernur. Saat ini bangunan ini difungsikan menjadi museum yaitu Museum Etnografi.  Warna merah nya itu yang membuat saya sangat suka dengan bangunan tua yang masih terawat dengan sangat baik, hmm itu dia maka saya yakin UNESCO tidak salah menjadikan kota Malaka sebagai World Heritage Sites. Jika dibandingkan dengan Stadthuys di Jakarta alias Museum Fatahillah, mengapa saya sebut Stadthuys walaupun itu menjadi trademark gedung di Malaka ini tapi sebagai negara bekas kolonialisasi Belanda kita juga punya sebuah Stadthuys yang lebih bagus karena bangunan tersebut menyerupai Istana Dam di Amsterdam.

Stadthuys you are so Red

Stadthuys

St. Paul Church Ruin Malaka

Jika kita terus mengikuti jalur menanjak di belakang Stadthuys ini kita akan sampai di Bukit yang paling tinggi di Malaka yaitu St. Paul Hill. Pemandangan di Bukit ini sangat indah. Di sini kita akan menemukan sebuah reruntuhan gereja yang masih terlihat cantik walaupun sekarang hanya 1/2 nya saja. Mendengar nama St. Paul saya mendadak flashback ke St Paul Ruin di Macau yang pernah saya datangi lihat kisah nya disini. Sedikit saya ambil benang merah karena kedua St. Paul ini sama-sama didirikan oleh Portugis.

Pemandangan dari St. Paul Hills

St. Paul Church its so wonderful

Tepat di depan gereja terdapat patung St. Francis Xavier seorang misionaris yang telah berjasa dalam menyebarkan agama Kristen di benua Asia, bahkan kabarnya beliau pernah sampai di Ambon Indonesia loh. Setelah saya perhatikan kenapa tangannya hilang ya, saya coba cari informasi rupanya dulu pernah ada sebuah pohon tumbang dan menghancurkan tangan patung ini,namun ada juga yang mempercayai karena tangan sang misionaris memang dipisahkan dari jasadnya karena dianggap suci wah ada sebuah keajaiban dong makanya patung sang misionaris ini benar-benar menggambarkan tangan kananya yang memang suci hmm kisah yang menarik. Di dalam gereja, bentuk lapisan batu bata merah yang tersisa mengambarkan sebuah bangunan gothic Eropa sangat kokoh masih berdiri kuat dan ada beberapa nisan dari orang Portugis yang pernah dimakamkan di sini selama pendudukan Portugis di wilayah ini. Perasaan damai pun mulai meresap dan saya membayangkan ketika dulu gereja ini aktif pasti salah satu gereja termegah di Asia.

Peninggalan Nisan Portugis di St. Paul Church

Reruntuhan yang masih kokoh dari St. Paul Church, pasti dulu ini gereja megah di Asia

Berjalan ke arah belakang saya melihat ada sebuah tugu berwarna putih, dengan rasa penasaran akhirnya saya temui rupanya itu ada jalan menuju ke Dutch Graveyard. Pada masa kekuasaan Belanda gereja ini tetap dijadikan gereja sampai Gereja Christ Church selesai dibangun pada tahun 1753. Namun bagian belakang dari gereja ini dibuat pemakaman orang Belanda. Ingat pemakaman silahkan cek kisah saya disini tentang wisata makam. Pemakaman ini jadi pemakaman yang menambah khasanah saya tentang wisata makam, suasananya beda dengan Museum Taman Prasasti di Jakarta karena di sini serba putih karena yang dimakamkkan di tempat ini adalah para pejuang perang, namun tugu obelisk khas pemakaman Belanda sangat kentara.

St. Francis Xavier Statue

The Dutch Graveyard entrance

Obelisk khas pemakaman Belanda

The Dutch Graveyard yang berwarna putih

Selesai dari makam saya melewati sebuah bangunan yang mirip dengan Istana Pagaruyung, yeah rupanya saya salah itu adalah Replika Istana Kesultanan Melayu yang bersebelahan dengan Dutch Graveyard tadi saya sangat kagum istana ini besar sekali, seandainya masih ada pasti keren sekali ini. Replika ini sekarang adalah Museum Kebudayaan Melayu. Tidak jauh dari Replika Istana Sultan ada sebuah batu bata merah yang kurang lebih tinggal 1/3 nya saja, nah ini dia rupanya A Famosa yaitu benteng yang dibangun oleh Portugis untuk mengawasi Selat Malaka. Nah saya jadi berpikir ini benteng kok menghadap ke jalan ya, rupanya jalan di depan benteng ini dulunya adalah laut Selat Malaka, saya tidak tahu tepatnya kapan di depan Famosa ini dilakukan reklamasi sehingga Malaka ini menjadi luas, berarti dulu nya kecil sekali ya namun karena lokasi yang sangat strategis Malaka menjadi begitu terkenal luar biasa bukan.

Replika Istana Sultan Melayu

Saat ini replika ini menjadi Museum

Sekilas saya pikir Istana Pagaruyung

Reruntuhan A Famosa Benteng Portugis

Malacca River 

Selat Malaka yang indah ternyata membelah menjadi sebuah sungai yang sangat cantik bernama Sungai Malaka. Salah satu ciri khas dari turisme di kota ini adalah berjalan mengitari sungai, air nya masih jernih dan banyak agen yang menawarkan untuk jasa cruise melewati sungai ini. Saya mencoba menjelajahi sungai ini di malam hari dan siang hari.

Sungai Melaka

Ada beberapa yang bilang Venesia dari Asia

Jonker Street

Suasana Jalan di Jonker Street

Remang lampu di malam hari pinggiran Sungai Melaka

So romantic I think

Suasana malam di sungai ini begitu syahdu dan colourful saya suka sekali, namun suasana siang hari juga tidak kalah menarik barisan street art juga dan bangunan ala Chinese Culture semakin menambah unik sungai ini. Tidak jauh dari sungai ini ada sebuah jalan yang sangat terkenal dengan kulinernya yaitu Jonker Street.

Saya berkesempatan untuk menemukan beberapa street art yang sangat menarik di gang kecil di Malaka ini. Mulai dari rumah Orang Utan yang keren sampai jendela dan tembok dari beberapa rumah yang dihias dengan wajah berbagai etnis di Malaysia, namun saya favorit dengan sebuah gang yang begitu colourful yang berhastag #mykiehlsheritage.

Street Art yang colourful #mykiehlsheritage.

Street art bergambar Gadis India

Orang Utan House

Dan demikian perjalanan saya di Malaka nantikan ada beberapa museum yang akan saya jadikan sebuah special insght khusus kisahnya ya dan akhir kata lets visit World Heritage. Don’t Forget History.

Ferdi Cullen

6 comments

  1. Wah kebetulan banget nih dirimu posting ini Fer. Minggu depan rencananya aku akan ke Malaka untuk yang kedua kalinya, dan rencananya mau naik bus dari TBS, seandainya bus yang langsung dari KLIA tidak ada -dua tahun lalu sih masih ada-.
    Tapi sepertinya menarik juga nih kalau lewat TBS, supaya punya pengalaman via terminal satu ini.
    Malaka emang ngangenin ya? 🙂

    Like

    1. Wah jadi pengen ikut hehehe, iya mas Bart karena kemarin saya sudah menginap satu malam di KL maka saya tidak dari KLIA, Malaka memang ngagenin dan saya juga belum eksplore semuanya masih banyak museum yang belum saya singgahi duh jadi pengen kesini lagi apalagi barengan sama mas Bart pasti sesuatu pengalaman baru nih. Oh iya sekalian promo mas kalau mas mau menginap di Malaka silahkan pilih Hotel Hong cari di booking.com ya mas harganya sih gak murah murah amat tapi servicenya bagus banget dan sekaligus kita bisa kontak pemilik hotel untuk menjemput dan sekaligus mengantar di terminal bus Melaka Sentral, kemarin soalnya saya janji sama owner nya agar dipromosiin siapa tau ada yng mau ke Malaka so I’ll keep my promise dan kebetulan Mas Bart mau ke Malaka kan hehehe. Selain jasa antar jemput ke terminal free of charge di hotel tersebut juga terdapat free mineral water, tea, or coffee dan jika mau ke tempat yang agak jauh contohnya Mesjid Selat Malaka ownernya bisa menyediakan transportasi dengan mobil mereka dan lagi-lagi free of charge heheheh siapa tau berkenan monggo ya mas Terima kasih

      Liked by 1 person

      1. Tolong sampaikan ke pemilik Hotel Hong ya Fer. Sebenarnya pada awalnya aku naksir untuk menginap di tempatnya, meskipun harus jalan agak jauh dari kota tuanya, tapi gak papa, aku suka.
        Tapiiii sayangnya, hotel itu sudah full booked di tanggal yang aku pilih. Sampai beberapa hari aku cek ulang, siapa tau ada yang tiba-tiba membatalkan diri. Tapi ternyata gak ada juga. So akhirnya aku memilih menginap di tempat lain, di lorong Hang Jebat.
        Mungkin, lain kali kalau aku kembali lagi ke Malaka, aku akan pesan dan pilih Hotel Hong jauh-jauh hari. Siapa tau kapan-kapan kita jalan bareng ke Malaka khan? hehehe …
        Dibuat tulisan khusus review nya dong Fer, tentang Hotel Hong.

        Like

      2. Ok mas bart memang di Hotel Hong agak jauh kalau jalan kaki mudah-mudahan kita segera travel bareng ya mas bart tetap semangat mas bart dan enjoy your trip ya di malaka gak sabar pengen liat ulasanya di blog bartzap.com

        Liked by 1 person

      3. Aamiin ,,, siap Fer. Makasih yaaa 🙂

        Like

  2. […] saya sudah pernah ceritakan betapa indahnya kota Malaka di cerita ini kemudian saya juga menceritakan kisah saya berkunjung ke museum yang menceritakan betapa Laksamana […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: