Ayo Ke Museum : Kota yang Terlupakan, Situs Arkeologi Kotacina

Hola Worlds sebenarnya Kota Medan mempunyai begitu banyak potensi dan tahukah anda bahwa di Medan ada sebuah museum yang sangat menarik yaitu sebuah situs arkeologi Saya sama sekali tidak menyangka bahwa ada sebuah situs arkeologi di wilayah saya yaitu kota Medan. Namun ternyata museum ini sudah cukup lama ada di Medan.

Pada hari sabtu yang cerah itu di bulan Juli 2015 kurang lebih sudah 1.5 tahun yang lalu, saya dan salah satu rekan saya pertama mengunjungi Museum Nasional Sumatera Utara, kunjungan ke museum tersebut hanya setengah hari saja, kami banyak mendapat ilmu terkait sejarah dan budaya Sumatera Utara. Hari menjelang siang dan kami pun menanyakan kepada petugas museum, apakah pernah mendengar perihal situs arkeologi Kotacina, dan dengan cepat dan tidak simpatik si petugas menjawab “tidak tahu”. Namun kami tidak menyerah, atas dasar ingin tahu yang begitu besar tentang situs tersebut, akhirnya kami tetap semangat untuk mencari dimana letak situs tersebut berada.

Dengan bantuan google maps, GPS, dan juga situs-situs blog akhirnya kami sampai ke situs tersebut. Situs ini berdampingan dengan salah satu objek wisata yang cukup populer di kalangan masyarakat kota Medan yaitu Danau Siombak. Jadi salah satu petunjuk menuju ke situs Kotacina adalah pertama kita harus sampai dulu ke persimpangan antara Danau Siombak dan situs Kotacina.

img_20150816_161732

Danau Siombak

Setelah melewati beberapa kelok dari jalan yang cukup bagus beraspal namun jalanya sangat sempit, jadi hanya bisa dilewati oleh satu buah mobil akhirnya kami sampai di depan pintu museum. Saya sengaja memampangkan gambar utama postingan saya ini dengan lambang museum situs kotacina tersebut. Agak miris sih memang situasi ketika saya berkunjung  di museum ini sangat memprihatinkan, mulai dari papan nya yang robek, dan sepinya pengunjung. Namun saya tetap salut dengan para arkeolog di museum ini yang selalu semangat untuk mengekplorasi situs ini dengan tetap bekerja keras dan pantang menyerah.Harapan saya mudah-mudahan ketika anda berkunjung situ sudah jauh lebih bagus daripada posisinya saat ini.

img_20150816_151535

Sangat prihatin dengan kondisi Museum ini lihat saja plank nya sudah rusak parah

img_20150816_155635

Peta Situs Kotacina

Situs kota china di medan marelan telah diketahui sejak tahun 1970-an,namun jejak sejarahnya mulai terkuak sejak ditemukannya sebuah arca kuno tepatnya pada saat adanya penggalian tanah menggunakan alat berat untuk penimbunan pembangunan jalan tol Belmera pada tahun 1986 silam. Museum ini berada di Jalan Kota China No. 65, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan. Pokoknya cara mudah kemari adalah tanya dengan penduduk sekitar tentang Danau Siombak, nah setelah mereka menunjukan dimana danaunya ada dua persimpangan  yang kanan ke danau dan yang kiri ke situs Kotacina.

img_20150816_151546

Mural-mural yang menjelaskan tentang Kotacina

Kotacina diperkirakan adalah bandar tertua yang berada di Sumatera bahkan Asia Tenggara, kawasan ini dulunya merupakan tempat tinggal para imigran baik imgran Tamil (india) dan imigran Tiongkok. Mereka melakukan transaksi perdagangan seperti tembikar, guci, keramik, dan bahkan arca (patung). Teori ini semakin diperkuat setelah ditemukanya rangka kapal pada tahun 2011 oleh Daniel Perret seorang arkeolog asal Perancis.

img_20150816_153203

Di lubang ini ditemukan rangka kapal kuno yang pernah berlabuh di Kotacina

Mengapa ia disebut Kotacina, Dinamakan kota china, karena ia berasal dari bahasa tamil “cinna”  yang berarti kecil, sehingga maksud dari kota cinna ialah kota kecil. Hal ini diambil karena beberapa teori menyatakan bahwa orang-orang tamil lah yang menetap di kota ini dan membawa keramik china sebagai hasil dari perdagangan mereka. Ada beberapa yang beranggapan bahwa awalnya orang-orang tamil lah yang banyak menetap di kota ini, namun lambat laun eksistensi mereka mulai tersingkirkan dengan hadirnya para imigran dari tiongkok yang kemungkinan besar terjadi pada masa kekuasaan dinasti Sung.

img_20150816_154040

Arca Wisnu tanpa kepala kabarnya kepala Sang Wisnu ada di Singapore

img_20150816_152902

Peta Kotacina

Berdasarkan literatur yang saya kutip dari Pusat Studi Sejarah dan ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Kotacina merupakan bandar pelabuhan yang ramai dikunjungi pada abad ke 12 M hingga abad ke 14 M. Komunitas pedagang yang melakukan transaksi di pelabuhan ini berasal dari China, Johor, Jawa, Burma, Thailand.  Catatan awal keberadaan kawasan ini ditemukan dari riwayat perjalanan John Anderson, seorang Scotisch yang diutus dari Penang pada tahun 1823 dalam bukunya: ”Mission to the East Coast of Sumatra and Malay Penisula” yang menyebutkan bahwa di daerah tersebut terdapat batu bertulis yang masyarakat tidak dapat membaca.  Anderson juga mengingatkan akan pentingnya Sei Deli sebagai jalur pelayaran sungai (riverine) dan pintu masuk (entrance) menghubungkan dataran tinggi (hinterland) dan lembah Deli.

img_20150816_153547

Arca Buddha ini ditemukan di pembangunan Tol Belmera

Penemuan Anderson tersebut dipublikasikan pada Tijdschrift van het Bataviasche Genootshap yang pada tahun 1882, yakni 20 tahun setelah pengusaha Belanda menginjakkan kakinya di Deli,  controleur Labuhan Deli berkeinginan menyelidiki inskripsi sebagaimana yang dimaksud Anderson tersebut tetapi tidak menemukan batu bertulis itu.  Namun demikian, sehubungan dengan ekspansi perkebunan Deli di kawasan ini, maka sejalan dengan banyaknya artifak seperti mata uang, archa tembikar, dan keramik dari Cina itu, maka pada tahun 1886 oleh Halewijn dicatat sebagai Kota Cina kemudian pada tahun 1914 dicatat lagi dengan resmi pada Oudheidkundig Verslaag (laporan Dinas Kepurbakalaan Belanda).

Namun demikian, jika diperiksa kembali catatan-catatan yang lebih awal, maka akan diperoleh penggambaran terhadap kawasan ini sebagai bandar perniagaan kuno. Alasannya adalah posisinya yang berhadapan langsung dengan selat Malaka (Malaca strait) yang memegang peranan penting sebagai ”jalur maritim sutra” yang menghubungkan Guang Chou (Asia), Arab (Timur Tengah) dan Mesir (Afrika). Dengan demikian, tidak mengherankan apabila disepanjang selat Malaka terdapat bandar-bandar niaga ramai dikunjungi seperti Kota Cina, Kota Rentang, Pulau Kampai, Tamiang, Samudra (Pase), Jambi, Batu Sangkar dan lain-lain.

img_20150816_154547

Artefak berupa mata uang dari dinasti Tiongkok

img_20150816_154513

Benda-benda unik yang diperdagangkan di Kotacina

Bandar Kota Cina ini jauh sudah ada dan sangat ramai bahkan sebelum Kota Medan ada wah berarti sudah lama sekali ya bandar ini dan ternyata penemuan ini menyatakan bahwa peradaban Kota Medan ternyata sudah ada sejak 800-900 tahun yang lalu. Kota Cina merupakan satu-satunya situs perkotaan (urban site) pra kebudayaan islam yang ditemukan hingga kini di Pulau Sumatra yang secara administratif pemerintahan terletak di kecamatan Medan Marelan Kota.Situs ini berada pada posisi 30 43’ N dan 980 38’ E dan sekitar 1.5 meter dari permukaan laut (dpl).  Luas situs ini berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Medan adalah sekitar 25 hektar, yang tidak mengikutsertakan Danau Siombak hingga sepanjang sungai Terjun. Bila seluruh kawasan ini digabungkan sebagai satu kesatuan situs Kota Cina, maka luasnya mencapai 100 hektar.

img_20150816_154435

Pecahan Keramik dan Tembikar

img_20150816_154727

Tembikar yang sudah berhasil dirangkai oleh para arkeolog

Saat ini situs ini masih terus menerus dilakukan penggalian dan para arkeolog yang sudah ada di situs ini sudah ada bahkan sejak tahun 70 an. Namun menurut para arkeolog mereka kurang mendapat dukungan dari pemerintah setempat namun demikian mereka tampak sangat bersemangat sekali untuk terus melakukan ekspansi dan mereka percaya mereka akan menemukan sejarah. Situs ini berlokasi satu areal dengan sebuah permukiman warga, warga sekitar yang banyak tinggal di sini adalah warga dari suku Karo. Bangunan yang saat ini dijadikan sebagai museum adalah tempat penemuan rangka berupa kapal kuno yang semakin memperkuat bahwa Kotacina merupakan sebuah kota internasional di era nya.

Untuk masuk ke dalam museum, pengunjung harus membayar tiket masuk terlebih dahulu. Adapun daftar tiket masuk ke dalam Museum Situs Kota China, yaitu dewasa Rp. 6.000,- Mahasiswa Rp. 5.000,- Pelajar (SMP/SMA) Rp. 4.000,- dan Anak-anak sebesar Rp. 2.000,-. Namun, untuk penduduk yang tinggal di sekitar museum (penduduk lokal) yang ingin berkunjung ke museum tidak dikenakan biaya alias gratis. Pada Museum Situs Kota China ini banyak ditemukan artefak, peninggalan sejarah pada abad ke-12 sampai abad ke-14 Masehi, seperti, patung-patung, keramik-keramik, bebatuan, uang kuno, rempah-rempah, dan ada juga replika Archa Buddha yang berbahan batu granit putih yang dipajang di tempat yang enak dipandang mata baik sebagai tempat rekreasi maupun edukasi terhadap sejarah tentang keberadaan Kota ini tempo dulu.

Bangunan museum berisi banyak mural-mural berbentuk infografis tentang sejarah Kotacina dan juga asal mula situs ini, masuk ke dalam bangunan kita akan diperlihatkan dengan beberapa artefak yang saya sukai adalah artefak patung Wisnu tanpa kepala dan kabarnya pecahan patung-patung ini terdapat di Museum National Singapore wah ternyata benar ya sudah terlebih dahulu diabadikan oleh warga Singapore, dan khusus di belakang ada sebuah lemari kaca yang berisi uang koin dari jaman dinasti Sung yang ditemukan oleh para arkeolog, selain koleksi koin ada juga tembikar yang semuanya berasal dari China, jadi kabarnya tembikar ini diperdagangkan di Kotacina sehingga warga banyak mengunakan tembikar tersebut sebagai peralatan rumah tangga mereka.

img_20150816_152135

Para arkeolog yang dengan sabar dan berdedikasi untuk situs ini

Belum ada teori yang pasti mengenai kenapa kota yang indah ini bisa menghilang ada beberapa pendapat yang mengatakan adanya bencana alam Tsunami yang membuat pelabuhan megah itu hilang ditelan bumi. Walaupun begitu keberadaan museum ini tidak boleh dilupakan begitu saja, pembangunan museum yang amat sangat sederhana ini dananya adalah berasal dari tiket pengunjung jadi yuk kita warga Medan beramai-ramai datang ke museum ini agar pembangunanya semakin cepat dan semakin megah.

img_20150816_160740

Saya bersama salah satu pemandu museum yang merupakan mahasiswa Unimed jurusan Sejarah Tetap Semangat

Ayo kita ke Museum…

5 comments

  1. Wah saya baru tahu nih ada situs ini di Medan… wajiblah kemari kalau main ke sana, hehe. Bandar perdagangan ini bahkan lebih tua dari Banten yang baru naik pamornya sejak zaman kolonial ya. Ini bukti bahwa perdagangan internasional itu sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu dulu. Dan menarik pula untuk penelitian masyarakat soalnya kawasan perdagangan internasional pasti sangat heterogen. Ada begitu banyak cerita yang bisa diangkat dari lokasi ini dan setiap hari semakin banyak dengan adanya penemuan-penemuan baru. Tinggal dikemasnya saja, semoga menarik pengunjung untuk mendengar kisah panjang kejayaan Kotacina sebagai bandar yang ramai.
    Namun ada paradoks yang menarik, dari Kota Cinna–bahasa Tamil menjadi Kota Cina–karena banyak imigran Tionghoa, hehe…

    Like

    1. Benar Mas Gara, mohon banget jika mas datang ke Medan agar dapat memasukan situs ini ke dalam salah satu point of interest yang akan mas kunjungi di Medan karena memang agar semangat para arkeolog di museum ini dapat terus terjaga maka diperlukan banyak kunjungan baik dari dalam kota maupun juga dari luar kota walaupun memang museum ini hanya menampilkan tempat yang masih sangat teramat sangat sederhana, nah insight dari mas Gara bisa nih saya rasa membantu pengelola museum agar mereka bisa membuat tampilan museum jadi lebih baik. Iya mas memang paradoks sih tapi teori yang saya tulis di sini memang berasal dari info di lapangan bahwa “Cinna” tersebut adalah bahasa Tamil namun tidak dipungkiri juga setelah masa bangsa tamil Hindu menguasai wilayah ini mereka tergerus dengan kedatangan bangsa Tiongkok Buddha yang bermigrasi besar-besaran ke wilayah ini dan lebih lama bermukim di kawasan ini.

      Like

      1. Iya Mas… saya ingin bincang-bincang langsung dengan para arkeolog di sana… semoga mereka welcome ya hehe.

        Like

  2. Ayo ke museum! sayang banget kalau museum dengan banyak peninggalan benda bersejarah seperti ini nggak dikunjungi ya 🙂 nanti kalau ada kesempatan semoga bisa mampir deh~

    Like

  3. I see your website needs some fresh content. Writing manually takes
    a lot of time, but there is tool for this boring task, search for: Wrastain’s tools for content

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: