ANCIENT EXPERIENCE : PAMUKKALE BENTENG KAPAS DAN HIERAPOLIS RERUNTUHAN KOTA KUNO MASA LAMPAU

Pamukkale yang artinya adalah Benteng Kapas merupakan sebuah situs alam di Propinsi Denizli di Turki. Kota ini berisi air panas dan travertine. Air panas yang merupakan mineral karbonat dari sisa air sungai Menderes ini diyakini mempunyai daya medis dan dapat mengobati beberapa penyakit kecil. Dalam perjalanan saya ke Turki di tahun 2014, saya mengunjungi kota ini dan suasana hangat tampak memasuki tubuh saya ketika tiba di kota yang relatif sepi ini, kami tiba sudah malam dari kota Selcuk dan kami pun menuju tempat kami menginap setelah check in dan beristirahat, keesokan harinya kami pun berkelana di salah satu kota kuno masa lalu yang walaupun saat ini tinggal reruntuhan namun memberikan kesan yang cukup mendalam bagi saya untuk berkunjung ke kota ini. Mari kita simak cerita Ferdi Cullen di kota Pamukkale.

Kota ini mempunyai sebuah lanskap yang sangat memukau  dengan bukit dan berbatu keras namun ternyata di tengah kerasnya batu dan tandusnya lahan terdapat sebuah susunan karbonat yang menghasilkan suhu yang begitu hangat dirasakan oleh tubuh. Dengan fenomena alam seperti ini maka Kekaisaran Romawi yang kala itu menguasai Turki menjadikan wilayah ini sebagai salah satu kota strategis nya dan membuat sebuah kota spa, yup spa dalam artian adalah kota Mandi or Bath City.

img_20141206_100348

Pemandangan dari Hotel sudah terlihat benteng kapas tersebut

Dan jadilah Pamukkale ini menjadi kota spa paling terkenal masa abad 100 SM. Disebut “benteng kapas” karena pondasi dan lanskap bukitnya yang mengendap menjadi putih akibat karbonat yang begitu tinggi di wilayah ini. Dengan kondisi karbonat yang sangat bagus ini maka tempat ini dijadikan tempat peristirahatan para raja Romawi dan juga sekaligus tempat pemandian kuno. Konon menjadi tempat pemandian favorit Cleopatra Ratu Mesir yang merupakan istri dari Julius Caesar. Di belakang keindahan kolam pemandian kuno ini terdapat sebuah kota kuno yang menjadi salah satu kota besar karena kota ini makmur akibat adanya tempat pemandian kuno tersebut. Kota kuno ini disebut Hierapolis.

Peta Kota Kuno Hieraopolis dan Travertine

Berdasarkan informasi dari beberapa situs sejarah seperti Turkey Tourism, bahwa kota Hierapolis dibangun oleh Raja-Raja Atalid dari Pergamom (salah satu suku di bangsa Yunani) pada akhir abad ke 2 SM (sebelum akhirnya diserahkan ke bangsa Romawi beberapa ratus tahun kemudian). Bangunan kota ini  didedikasikan oleh masyarakat Pergamom untuk Dewi Hera salah satu dewi kuno di jaman Pergamom  yang merupakan ibu para dewa maka kota ini disebut dengan Hierapolis. Dahulu kala banyak sekali gambar patung sang dewi di jalanan kota, dan sebelum adanya bangsa Romawi justru kota ini merupakan kota tempat pemujaan pagan. Namun setelah bangsa Romawi mengepakkan sayap di wilayah Asia, kota ini jatuh ke tangan Romawi dan di tangan Romawi lah kota ini disulap menjadi kota Spa dan sekaligus kota hiburan bangsa Romawi, di sini dibangun sebuah amphiteater yang rupanya mirip dengan di Ephesus namun amphiteater yang di kota Hierapolis dikhususkan untuk pertarungan Gladiator dan di Ephesus khusus untuk tempat berkumpul masyarakat dan tempat pidato walikota.

Selain sebagai tempat pemandian di Hierapolis, Romawi juga membangun beberapa kuil pemujaan kepada dewa kuno bangsa Romawi seperti Dewi Artemis yang kuilnya dominan di wilayah ini, teater, makam, dan monumen-monumen. Pariwisata merupakan salah satu mata pencarian dari masyarakat di kota ini sejak dulu kala di era Romawi bahkan sampai sekarang, bayangkan saja karena begitu tersohornya pemandian ini maka banyak orang yang berdatangan membagun restoran bahkan penginapan untuk menjamu para wisatawan itu dari dulu sampai dengan sekarang. Oleh sebab itu kota ini begitu hidup dan menjadi besar serta terkenal sebagai salah satu metropolitan kala itu.

Namun karena faktor alam juga kota ini hancur, banyak nya gempa bumi yang terjadi di wilayah ini telah membuat bangunan-bangunan yang sangat indah hancur berkeping-keping, sama hal nya dengan kota Ephesus. Saat ini yang bisa kita saksikan di kota ini adalah padang rumput yang sangat luas dan subur disertai dengan bongkahan batu batu yang merupakan batu bekas reruntuhan bangunan ini. Hanya Necropolis yaitu amphiteter Gladiator yang bertahan dimana 75% bangunan nya masih merupakan bangunan asli dari ribuan tahun lalu.

Nah sebelum mulai jauh mari kita kembali ke kisah saya dimana saya memulai penjelajahan dari hotel tempat kami menginap berjalan kaki menuju Travertine tempat pemandian kuno tersebut. Ternyata jarak nya tidak terlalu jauh, dari hotel sudah dapat terlihat remang remang keindahan bukit yang memang sangat mirip dengan kapas putih keabu-abuan warnanya. Mulai memasuki kawasan Travertine kami membayar tiket terlebih dahulu dan tiketnya termasuk murah yaitu hanya 20 Lira.

Tips: Ada Dua Tempat masuk ke Hierapolis pertama adalah melalui Travertine yang merupakan South Gate dan satu lagi langsung di Hierapolis yang merupakan North Gate. Jika anda memutuskan untuk masuk dari South Gate maka anda akan dihadapkan dengan petugas yang meminta anda untuk melepas sepatu, sehubungan tekstur kapas dari karbonat ini akan mudah rusak jika diinjak menggunakan sepatu sehingga muncul restriksi untuk tidak boleh memakai sepatu di areal Travertine. Namun berbeda dengan jika anda masuh dari wilayah North Gate anda akan berjumpa terlebih dahulu dengan Hierapolis dan secara perlahan turun dan sampai di Travertine, yup pilihan ada pada anda.

Setelah melepas sepatu, kami pun menenteng sepatu kami dengan mengunakan paper bag nah tips satu lagi ya jika kalian ingin masuk dari South Gate pastikan kalian bawa paper bag/plastic bag  ya agar mudah membawa sepatu nya. Rasa hangat pun menyelimuti saya yang mana awalnya terasa begitu dingin apalagi ketika kami berada di Turki adalah bulan Desember 2014 suhu selalu berada di antara 8-15 derajat, namun ketika kami di Travertine huhh rasanya bener -bener hangat dan ini lah suhu yang paling hangat yang saya rasakan semenjak tiba di Turki kala itu.

Kami berjalan menuju ke South Gate pemandangan di sebelah kiri seakan akan lagi berada di Gunung Es

Pemandangan Kolam Kuno yang ingin diabadikan oleh Rekan Seperjalanan saya

Dengan penuh semangat kami pun melanjutkan mendaki sang benteng kapas yang indah ini, harap berhati-hati ya saat akan menaiki benteng ini dengan kaki telanjang karena kalau tidak bisa sedikit tersandung karena lantai kadang sangat licin. Sepanjang perjalanan kami, kami melihat pemandangan yang indah, ada satu lagi khusus tempat pemandian ala turkish bath yang menjadi salah satu objek wisata di sini yang tidak sempat kami datangi yang merupakan Ancient Bath bagi anda yang suka dengan tradisi mandi ala turki wajib coba karena info yang kami dapat mandi di sini mempunyai daya media akan bisa membuat badan segar sekaligus penyakit kecil akan hilang.

img_20141206_102825

Itu saya sedang selfie di Benteng Kapas

Setelah sampai di puncak benteng kami pun dihadapkan dengan pemandangan reruntuhan batu batu besar, awalnya kami bingung batu-batu apa ini rupanya itulah dia batu-batu peninggalan Kota Hierapolis. Setelah itu kami mencoba salah satu spot tertinggi di Travertine dan pemandangan bener bener luar bias perpaduan kolam kuno, batu batu, dan benteng kapas membuat landscape yang sangat indah bagi anda yang hobi Fotografi saya yakin ini bisa dijadikan salah satu objek foto yang sangat menarik.

img_20141206_105327

Setelah mendaki sang benteng puncak atas yang merupakan North Gate mulai terlihat

Tidak banyak yang bisa kami lihat di Hierapolis dibandingkan di Ephesus namun untuk skala kota, kota ini mempunyai luas yang sangat dibandingkan dengan Ephesus. Kami pun berjalan menyusuri padang rumput dan sekaligus banyak sekali bongkahan batu di kanan dan kiri kami, dari jauh kami sudah melihat ada sebuah bangunan besar dengan sigap langkah kami pun penasaran bangunan besar apa itu. Nah maka sampailah ke Necropolis yang sangat luar biasa. Kurang lebih untuk mencapai Necropolis ada jalan kaki sejauh 1-2 KM namun bagi saya pemandangan padang rumput dan bebatuan yang tidak saya lihat setiap hari merupakan kesempatan langka maka saya wajib jalan kaki. Di Necropolis tempatnya sangat terbatas kita hanya bisa masuk dan menuruni beberapa anak tangga saja, kalau dihitung nampaknya ada lebih dari ratusan podium tangga yang menjadi tempat para warga duduk menyaksikan pertunjukan. Menurut salah satu penjaga tempat ini, Necropolis masih 1/8 dari Colloseum yang ada di Rome, wah gini aja udah besar gimana Colloseum ya. Kemudian lanjut sang Penjaga, tingkat kerusakan bangunan ini setiap tahun bertambah sehingga ruang untuk wisatawan pun semakin sedikit dan dia selalu mengingatkan agar berhati-hati karena salah melangkah kita bisa jatuh. Namun bagi yang membawa anak-anak dilarang di sini karena ya itu tadi dari sisi safety masih sangat riskan sekali jika tidak benar benar berhati-hati. Namun terlepas dari itu saya merasakan energi dengan luar biasanya kuasa Tuhan akan pemandangan di atas ini yang memang sangat indah, awesome ,dan extraordinary.

DSC_0553

Puncak Travertine , dari sini pemandangan nya sangat indah sekali

Reruntuhan Hierapolis

Necropolis Theatre is so huge

Saya memang sangat suka datang mengunjungi reruntuhan dari kebudayaan kuno seperti ini dan kehadiran saya di sini jelas memberikan sebuah pandangan baru mengenai arti dari sebuah kebudayaan yaitu kita harus lestarikan. Selesai berfoto dan melepas lelah di Necropolis kami pun turun kembali ke arah Travertine dan keluar. Tujuan kami masih melewati Travertine karena hotel kami berdekatan dengan South Gate .Namun ketika kami menuju ke Travertine sudah banyak terlihat masyarakat yang melakukan mandi di sekitaran pancuran air yang terlihat seperti selokan yang sangat hangat. sebuah aktivitas human interest yang sangat unik saya rasa, kemungkinan besar orang-orang tersebut karena udara dingin mencoba menghangatkan diri.

img_20141206_123121

Sekarang Hierapolis hanya padang Rumput yang penuh dengan bebatuan kuno bekas bangunan megah di Era-nya

img_20141206_144038

Hehehe ini dia tingkah polah masyarakat yang mencoba air hangat di selokan Travertine, awesome

Sebuah pengalaman yang luar biasa dan akan selalu terekam di pikiran saya mengunjungi keindahan Travertine dan Hierapolis ini. Sebagai kenangan saya abadikan jejak langkah saya di kota ini. Turki you are really The Best Travel Place.

img_20141206_102115

I Left My Footsteps in this lovely place

Salam

Ferdi Cullen

3 comments

  1. cakepnya Turki, pamukkale sudah masuk list kalau berkesempatan ke Turki soalnya pengen berendam manja di air hangat yg berundak-undak bak gumpalan kapas itu, salam kenal ya

    Like

    1. Terima kasih Mbak Pink Traveller sudah mampir di blog saya, salam kenal dengan saya Ferdi seorang newbie di dunia travelling and writing mhn arahanya deh mbak, dan semoga mbak segera ke Turki ya mbak, mbak wajib ke sana Terima kasih

      Liked by 1 person

      1. ya Allah dek Ferdi Cullen serius amat, mbak nggak suka membully newbie hahaha, sama2 belajar ini. kalo dah ke Turki masak dibilang newbie, kamu lucuk deh

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: