Ancient Experience : Mengenang Judge Bao di Persidangan Kuno Pingyao

Pagi itu hujan turun dengan derasnya, namun sebagai seorang traveller tentunya hal itu tidak akan mematahkan semangat saya, sambil bersiap mengambil payung saya pun akan menjelajah kota kuno Pingyao. Kurang lebih 300 M dari penginapan saya, saya temui loket penjualan tiket One Day Pass yang merupakan akses masuk ke 28 museum dan atraksi yang ada di Kota kuno ini. Setelah mendapatkan tiket tujuan saya selanjutnya adalah menjumpai Judge Bao ehh pada belum tau ya siapa Judge Bao yuk mari dengarkan kisah saya di Mengenang Judge Bao di Persidangan Kuno Pingyao dalam kajian Ancient Experience.

Sebelum kita masuk ke cerita utama, akan saya ceritakan sedikit tentang Judge Bao. Jadi sekitar era 90 an di Indonesia, muncul begitu banyak soap opera dari negeri Tiongkok, salah satunya adalah Judge Bao ini. Film serial yang berasal dari Taiwan ini mengisahkan kisah seorang Hakim yang bernama Bao Zheng yang hidup di Dinasti Song, beliau menjadi Hakim sekaligus Walikota di kota Kaifeng, beliau dikenal dengan keberanian dan ketegasanya menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Pada film tersebut Hakim Bao digambarkan sebagai warga Tiongkok berkulit Hitam, hal ini dikabarkan warna kulitnya yang hitam menyiratkan simbol “kegelapan” di dunia Keadilan Imperial China masa lalu. Banyak pejabat yang korupsi, rakyat yang kelaparan, dan orang kaya semakin kaya dengan menginjak yang miskin.

Satu kisah yang saya ingat adalah ketika beliau mengadili Chen Shimei menantu raja, atas tuduhan Qin Xianglian. Chen dan Qing tadinya sepasang suami istri. Chen pergi ke ibu kota Kaifeng untuk mengikuti ujian negara. Setelah lulus, Chen bukannya kembali menjemput orang tua, istri, dan anaknya, ia malah mengaku bujangan dan berhasil memperoleh nama dan kedudukan dengan jalan menikahi putri raja. (mirip kisah Malin Kundang lah hehehehe)

Sementara itu Qin terpaksa membanting tulang merawat mertua dan anaknya. Ketika bahaya kelaparan melanda desa sampai menewaskan kedua mertuanya, Qin lantas membawa anak-anaknya ke Kaifeng. Namun, ia mendapati suaminya telah menikah lagi dan menolak mengakui keberadaan mereka. Qin mengadukan nasib malangnya kepada Hakim Bao yang terkenal keadilannya. Hakim Bao lantas mengambil tindakan tegas untuk menghukum mati sang menantu raja, meski taruhannya adalah nyawa dan kedudukannya sendiri. Keputusan ini ditentang permaisuri yang melarangnya mencampuri urusan keluarga raja. Perintah tegas permaisuri ini pun ditanggapi dengan ujaran dingin, “Keluarga raja dan rakyat jelata mempunyai kedudukan yang sama. Jadi, tetap harus tunduk pada hukum negara.” tegas Hakim Bao, manakala permaisuri mengancamnya dengan kekerasan, Bao malah memilih menanggalkan topi dan jubahnya. Hukuman mati bagi Chen tetap dilaksanakan. Benar-benar kisah yang sangat inspiratif sih menurut saya berikut cuplikan seri tersebut.

Terus apa dong hubungannya dengan kota Pingyao yang saya datangi beberapa waktu lalu?, memang bener sih gak ada hubungan secara langsung antara Pingyao dan Kisah Judge Bao yang sangat menginspirasi ini. Namun di kota kuno ini ada sebuah museum yang disebut Museum Pingyao County Government Office. Museum ini adalah kompleks administrasi  pemerintahan kota Pingyao kala itu. Perkantoran kuno ini dibangun pada tahun 1346 jadi kurang lebih sudah 670 tahun, dalam bahasa China bangunan ini disebut Gu Xianya, lokasinya tepat berada di tengah kota Pingyao. County Government Office ini merupakan akar administrasi peradilan di pemerintahan Feodal China. Sang Kepala atau pimpinan di perkantoran ini dapat disebut sebagai Hakim Ketua atau Magister atau Fumu Guan yang merupakan Bapak atau Ibu bagi masyarakat. Berdasarkan fungsinya tempat ini merupakan tempat Pengadilan, berada di sini saya jadi memahami bagaimana negeri ini benar benar sangat paham apa artinya memberikan keadilan itu. Sebelumnya saya memang sering mendengar bahwa koruptor di negeri ini akan dijatuhkan hukuman mati, jadi dengan mengabadikan tempat ini saja saya sudah sangat yakin bahwa China merupakan negeri mengarap serius namanya keadilan dan itu menurut saya suatu pelajaran yang sangat berharga yang saya petik dari kunjungan saya ke Mainland China.

Hujan di Gerbang Utama Museum ini

Nah kembali ke cerita, ketika itu hujan sangat deras sehingga belum banyak orang datang ke museum ini, tempat ini tidak begitu luas bagian depan adalah sebuah halaman panjang berbentuk persegi, terdapat ruang pengadilan di ujungnya, yang disebut dengan Central Courtyard Yamen atau disebut juga Ceremonial Gate yang merupakan aula pengadilan utama untuk kasus besar, menariknya di sini ada 3 pintu untuk 3 kalangan, pintu tengah adalah untuk para pejabat dan tamu kehormatan misal Kaisar yang ingin langsung melihat pengadilan, kemudian Pintu Timur untuk para saksi dan juri serta karyawan pengadilan dan Pintu Barat nah ini adalah untuk para kriminal yang hendak diadili bersama para penjaga.

IMG_0436

Ruang Utama Persidangan, ini adalah tempat duduk Magister atau Hakim Ketua

Ada beberapa benda menarik di Central Hall ini, pikiran saya langsung melayang ke serial Judge Bao seketika melihat ruangan ini karena tempat duduk Magister begitu mirip dengan tempat duduk Hakim Bao di film itu, makanya saya ingin menulis perumpamaan dengan kisah tersebut, tapi setelah dilihat lihat memang rutinitas yang ditunjukan di cerita tersebut sama persis dengan yang ada di ruangan ini. Mulai dari bedug/drum  tempat menabuh tanda ada pengaduan bagi para korban ketidakadilan, yang ingin agar hakim menyelesaikan masalahnya maka caranya sangat mudah silahkan menabuh drum tersebut, bagi siapa saja tanpa memandang bulu dan drum dapat ditabuh 24 jam dan si korban berhak membangunkan hakim kapan pun 24 jam (berat ya kerjaan hakim), dan ketika hakim sudah datang dia pun menghadap ke hakim dan mulai menceritakan kisahnya. Apapun kasusnya, berat maupun kecil si hakim harus sabar mendengarkannya wah ini benar benar tantangan sama si Hakim.

IMG_0437

Dug…Dug…Dug, siapa penabuh drum ini maka dia punya masalah yang harus diselesaikan oleh Hakim

Tapi ternyata tidak sembarangan kasus memang kalau ternyata sang penabuh bedug setelah menghadap hakim diketahui hanya main-main dan atau membuat sebuah kebohongan maka hakim akan menjatuhkan hukuman berupa pukulan dengan mengunakan tongkat pukul warna merah. Bagian atas tongkat ini bisa digunakan dengan secara horizontal dan bisa juga vertikal, tergantung jenis hukuman yang diberikan kepada si tersangka. Selain tongkat pukul ada juga di meja hakim yaitu semacam stik kecil  ada yang berwarna merah dan hitam. Setiap si hakim hendak menjatuhkan vonis maka beliau harus melempar stik ini ke ruang sidang, merah artinya si tersangka dinyatakan tidak bersalah, dan hitam artinya bersalah, biasanya untuk stik hitam sang hakim akan melempar sekaligus mengucapkan jenis hukumanya. Hukuman beragam mulai dari pukulan, hukuman penjara, pengasingan, sampai hukuman mati. Hakim merupakan pekerjaan yang sangat mulia di negeri ini dan merupakan jabatan yang diberikan langsung oleh sang Kaisar, representasi dari kaisar adalah dalam bentuk Segel sang hakim yang langsung dikirim oleh Kaisar dari ibukota, biasanya di setiap persidangan maka segel tersebut wajib harus ada bersama hakim dan bahkan hakim harus menjaganya dengan hidupnya jangan sampai segel tersebut hilang.

IMG_0438

Tongkat yang digunakan para penjaga memukul tersangka untuk hukuman ringan

IMG_0446

Segel Hakim yang wajib dijaga Hakim bahkan oleh hidupnya

IMG_0444

Jika Hakim melempar stik merah maka Tersangka dinyatakan Tidak Bersalah

IMG_0445

Jika Hakim melempar Stik Hitam maka Tersangka Bersalah dan akan dijatuhi hukuman setimpal

Selain stik ada juga beberapa senjata lainya seperti tombak dan pedang, bahkan sampai ada sebuah dorongan kayu berkepala singa yang kabarnya di situ tempat ditaruh alat pancung yang khusus untuk tersangka yang akan diberikan hukuman mati, jadi hakim berhak loh memberikan hukuman mati wah kebayang gak sih berat sekali beban jadi hakim itu. Jika kita berjalan lagi menelusuri museum ini maka kita bisa melihat rumah sang hakim dan ada satu ruang pengadilan kecil yang biasanya digunakan untuk kasus yang lebih kecil. Ada juga beberapa kuil disini wujud dari rohani hakim yang setiap pagi wajib untuk berdoa.

IMG_0449

Dorongan Kayu berlambang Singa ini merupakan tempat pisau penjagal saat ini pisau sudah tidak ada, gunanya pisau tersebut adalah menghukum mati Tersangka langsung di persidangan

IMG_0467

Ruangan ini digunakan oleh Hakim untuk berdiskusi dengan penasehat hakim dalam memecahkan berbagai kasus

IMG_0461

Ruangan Persidangan ini sudah berusia 600 tahun namun sangat awet

Satu lagi jika anda hendak kemari, anda juga bisa menyaksikan sebuah pementasan teatrikal setiap pukul 9.30 pagi tentang kondisi peradilan di masa Dinasti Qing namun sayangnya karena pada jam tersebut hujan sudah berhenti dan orang-orang sudah berkumpul begitu banyak sehingga saya tidak bisa merekam dengan jelas, kemudian pertunjukanya juga tidak terlalu lama hanya 5 menit dan mengunakan bahasa China yang saya tidak begitu paham, tapi seneng juga sih lihat para pemain mengunakan pakaian dinasti Qing karena di acara ini para pemain wajib mengenakan atribut tempo dulu.

IMG_0490

Acara Teatrikal tentang Persidangan Kuno mirip kisah Judge Bao

Selepas dari situ saya juga lihat penjara dan terowongan yang digunakan para penjaga untuk menghukum para tersangka, agak naik sedikit kita akan berjumpa dengan Menara Arwah Rubah. Yup dalam mitologi China, arwah Rubah merupakan salah satu lambang peradilan sehingga hanya hakim saja yang boleh datang memanjat menara ini. Bahkan menurut rumornya siapa yang sudah memanjat menara ini akan sukses karirnya menanjak seperti hakim Amin deh.

IMG_0493

Pasung yang digunakan untuk memasung para Tersangka makanya jangan berbuat jahat ya

IMG_0485

Suasana Altar Arwah Rubah begitu tenang dan damai di sini

IMG_0486

Lukisan Representasi Arwah rubah sebagai wanita yang selalu mengawasi jalanya persidangan

IMG_0483

Mitosnya kalau sudah sampai di Menara Arwah Rubah akan diberikan karir yang sukses seperti para hakim Amin deh

Dari atas Menara Arwah Rubah kita bisa melihat keindahan atap atap rumah-rumah warga Pingyao yang ternyata sangat cantik dan memang gak banyak ya orang yang mau naik ke mari hehehe karena tangganya memang banyak banget dan lumayan melelahkan tapi saya sangat worth it menikmati keindahan atap-atap kuno ini benar-benar pemandangan yang sangat menarik menurut saya apalagi setelah hujan turun terasa syahdu. Akhirnya setelah puas saya pun segera turun ke bawah dengan banyak sekali inspirasi. Hakim Bao engkau memang pantas disebut hakim Agung luar biasa.

IMG_0476

Atap rumah warga Pingyao dari atas Menara Arwah Rubah, syahdu karena baru selesai Hujan

Ferdi Cullen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: