The Most Awesome Travelling Moment in 2014 : (2) Save The Elephant For The Future

Hello World…..

Apa kabar? Hope you are all alright and good health. Pada kesempatan hari ini saya akan menceritakan momen kedua saya dalam travelling 2014 yang sangat berkesan. Sesuai judulnya adalah Save The Elephant For The Future, perjalanan saya kali ini ada hubunganya dengan Gajah. Ya binatang Gajah, namun bukan Gajah Thailand hehehe.

Yup pada bulan Maret lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata Propinsi Sumatera Utara tepatnya di wilayah Kabupaten Langkat yaitu Tangkahan. Dan hari itu adalah hari Sabtu sehingga perjalanan pun dimulai pagi hari, kebetulan saya bersama rekan-rekan kerja di kantor kami pergi berdelapan.

Dari Binjai mobil bergerak menyusuri jalan raya Medan-Banda Aceh, melewati Kota Stabat, ibukota Kab. Langkat. Selepas Stabat, kira-kira 6 km, kami berbelok di masuk ke kiri di sebuah pertigaan, simpang Beringin namanya, menuju ke arah Sawit Seberang-Padang Tualang. Dari situ jalan menjadi lebih sempit tetapi masih lumayan bagus. Hanya agak terganggu karena sering berpapasan dengan truk sawit dan truk pasir.

Setelah melewati Padang Tualang, Tanjung Selamat dan Batang Serangan jalan mulai tambah menyempit. Dan setelah 30 km dari Simpang Beringin jalan aspal berubah menjadi jalan eks-aspal. Banyak berbatu-batunya daripada aspalnya.Beberapa jembatan juga sempit dan cukup berbahaya, sementara truk besar dan bus besar  jurusan Medan-Sawit Seberang juga masih sering berseliweran sewaktu-waktu. Pokoknya harus hati-hati lah. Namun untungnya kami punya seorang pengemudi yang paten sekali so it’s easy for him.

Sebelum sampai Sawit Seberang, tiba-tiba jalan berubah menjadi aspal mulus meski sempit. Dan begitu menyeberang jembatan memasuki Kota Kecamatan Sawit Seberang, kondisi jalan langsung terjun bebas lagi. Malah lebih parah. Lubang-lubang yang dipenuhi air jalan di daerah kota kecamatan itu malah sepertinya bisa dipakai untuk memelihara ikan lele, saking besar dan dalamnya. Satu km kemudian jalan pun memasuki kawasan perkebunan sawit Kuala, Sawit miliknya PTP Nusantara II. Jalan berubah menjadi jalan utama khas kebun sawit. Berbatu kerikil dan lurus-lurus. Di beberapa titik masih terdapat lubang-lubang dan jembatan-jembatan kecil yang perlu diwaspadai. Dan yang perlu diperhatikan juga adalah banyaknya titik persimpangan jalan di dalam kawasan kebun yang berates-ratus hektar luasnya itu. Kuncinya adalah ikuti saja tiang-tiang jaringan kabel listrik PLN di tepi jalan. Soalnya dari sejak masuk jalan raya Medan-Banda Aceh tadi tak Nampak satupun petunjuk arah menuju ke kawasan Tangkahan (yah begitulah kondisi pariwisata Indonesia khususnya Sumatera Utara)

Setelah 11 km lebih menyusuri jalan kebun sampailah di Desa Namo Sialang dan tak lama kemudian pintu gerbang (atau pintu masuk, soalnya tak ada gerbangnya) Tangkahan pun tercapai. Ada pembelian karcis masuk mobil di pintu masuk itu oleh petugas tak berseragam (dan ternyata semua petugas di sini memang tak berseragam).Kami disuruh membayar 50 ribu lumayan mahal sih kalo dibagi perorang kami berdelapan adalah Rp. 6.250.

DSC_0236

CRU Tangkahan

DSC_0256

Tangkahan Visitor Center

Visitor Information yang berdinding bambu. Rupanya di situ lah pintu masuk dan pembelian karcisnya. Harganya Rp. 3.000,- per orang. Murah ya. Kemudian kami terus keluar ke belakang dan langsung nampak sungai diantara rimbunan pohon. Untuk mencapai sungai jalannya berupa tangga yang cukup curam dan lumayan tinggi.

Sampai di bawah barulah terbentang kawasan Tangkahan itu. Jadi kawasan wisatanya merupakan tepian sungai pegunungan yang cukup lebar. Sehingga terdapat pantai berpasir yang cukup luas. Dan di situ adalah titik pertemuan antara Sungai Batang Serangan yang besar dan Sungai Buluh sebagai anak sungainya.

 DSC_0265DSC_0267 DSC_0270

Anak Tangga menuju ke Sungai Buluh

Setelah mengambil perbekalan kembali di mobil dengan susah payah mendaki tangga yang curam tadi (ngos-ngosan juga..) kami menyeberang dengan badan kami sendiri. Yup anda tidak salah dengan badan kami menyeberangi sungai tersebut dan kebetulan memang ketika kami datang sedang musim panas dimana debit sungai sangat rendah tapi perasaaan saya ketika menyeberanginya adalah tetap terasa ada gelombang sungai semeriwir jadi agak kurang seimbang tapi overall we did it. Cuma kali ini cukup berjalan saja, karena ketinggian air hanya sebatas lutut orang dewasa. Tapi meski sudah digulung celana, akhirnya tetap basah juga celananya. Kalau penampilannya kami seperti orang mengungsi karena kebanjiran hehehehe.

DSC_0274

Menyeberangi Sungai Buluh

Setelah 200 meter menyusuri sungai berbatu kecil-kecil akhirnya kami menemukan tempat yang pas untuk menjadi tempat berteduh. Segeralah tikar dibentang, segala bekal dikeluarkan. Memang saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan perut pun sudah mulai lapar setelah 2 jam perjalan yang cukup melelahkan tadi. Dan Its show time ada yang foto-foto ada yang mandi-mandi. Lets have some fun….

DSC_0433 DSC_0489

Foto-foto dan Mandi-mandi

Nah setelah mandi mandi dan selfie serta groupie maka perjalanan kami dilanjutkan dengan kegiatan yang paling saya sukai dalam perjalanan ini yaitu kegiatan melakukan memandikan gajah. Berikut ini gambar-gambar Gajahnya yang menurut saya lucu-lucu.

Aktivitas memandikan gajah menurut saya merupakan sebuah aktivitas yang menyenangkan, cara mendaftarnya sangat mudah tinggal daftar di Tangkahan Visitor Centre tapi harganya lumayan mahal sih kemarin saya bayar Rp 80.000 untuk acara mandi sore para Gajah. Sekedar informasi untuk Elephant Trekking itu biayanya adalah Rp. 250.000 (mahal sih memang) tapi karena keterbatasan budget saya hanya mengikuti Washing Elephant sedangkan elephant trekking saya skip.

DSC_0567

hello please save me 

DSC_0576

Gajah suka hidup berkelompok
DSC_0580

Bersiap untuk Mandi DSC_0581

Perjalanan menuju Sungai 

DSC_0593

Ferdi Cullen dan Para Gajah yg ready untuk “nyemplung”

DSC_0626

Kegiatan Menyikat kulit Gajah yang sangat keras

DSC_0678Foto Bareng dengan Gajah yang udah Siap Mandi

Dan dengan selesainya proses memandikan gajah maka berakkhir sudah perjalanan kami. Sangat capek dan letih sehingga pas di perjalanan pulang kami pun tertidur lelap. Nah akhir kata saya mendapat pelajaran kita harus menyelamatkan binatang-binatang alam karena mereka sangat menarik jangan biarkan anak cucu kita tidak bisa melihat Gajah Sumatera yang merupakan warisan pulau Sumatera yang sangat Indah.

Save The Elephant For The Future

What a nice journey… Incredible

One comment

  1. […] Hari pertama saya upload foto saya ketika berada di salah satu tempat dengan alam yang terbaik yang pernah saya datangi di Sumatera Utara yaitu Tangkahan Rain Forest. Hutan ini masih menjadi wilayah The National Park of Bukit Barisan. Anda bisa lihat kisah perjalanan saya di Tangkahan melalui link ini, Save The Elephant for The Future. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: